Showing posts with label Artikel. Storyline. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Storyline. Show all posts

Wednesday, 7 November 2018

Bᴇʀ-Tᴇᴍᴜ-Tᴇɴɢᴋᴀʀ

..
Bᴇʀ-Tᴇᴍᴜ-Tᴇɴɢᴋᴀʀ
🅱🎗🌱-🌴🎗〽️⛎-🌴🎗🎵🌀🎋🅰🌱 [bahasa emoji]
..
Terkisah aku dan kamu berpengalaman di tengah semesta yakni bukit yang besar dan tinggi, Oreste namanya dalam bahasa Yunani. Aku memburu hal yang indah menghirup sejuknya lembah nirwana, tak terpikir sama sekali olehku bayangan dirimu, ah mungkin aku tidak berakal tentang sosok wanita kala itu terlebih dirimu yang tak ku kenal hanya sebatas kosakata nama
..
Pikiranku melayang ke nirwana sampai kau melewati diriku dan berkata bau ku seperti bau kambing dengan nada “Your smell like mbeek, mbeek”, ku jawab dengan persamaan nada “If you think my smell like mbeek, why you always want to beside me!”
..
Ya aku tahu itu hanya guyonan kekerabatan diantara kita, kita sama-sama membual satu sama lain hahaha. Ber-Temu-Tengkar penggalan kalimat yang menandai awal temu kita dengan tengkar guyonan pertengilan sampai kau sembatkan dititel namaku Tengil 4 dan dirimu sendiri Tengil 3, lucu juga ya keluguan candaan dirimu
..
Sampai pada akhirnya aku hanya bisa menghampiri Al Razaq penggenggam alam semesta untuk memelihara kehidupan aku, kamu, dan mereka. Tak disangka berburu harapan membuahkan hasil dalam jangkauan jodoh tahun 1514 diri ini meminang dirimu dengan kisah kelucuan luar biasa yang sudah Al Razaq susun skenario untuk kita. Maka Ber-Temu-Tengkar sampai hari ini kau dan aku jalani masih di semesta yang sama
..
Aku pun tersenyum ^_^..
Jumat 10.23 …
тeɴɢιl 3 4




#cerita #kisah #guyonan #pertengkaran #story #kehidupan #gunung #akukau #semesta #candaan #fiksi #nonfiksi #imajinasi #pikiran

Wednesday, 16 September 2015

Quotes

Men Are from Mars, Women Are from Venus by John Gray






Once upon a time Martians and Venusians met, fell in love, and had happy relationships together because they respected and accepted their differences. Then they came to Earth and amnesia set in: they forgot they were from different planets. Based on years of successful counseling of couples and individuals, Men Are from Mars, Women Are from Venus has helped millions of couples transform their relationships. Now viewed as a modern classic, this phenomenal book has helped men and women realize how different they really are and how to communicate their needs in such a way that conflict doesn't arise and intimacy is given every chance to grow!!!!

Image result for men are from venus

“When a man can listen to a woman's feelings without getting angry and frustrated, he gives her a wonderful gift.
He makes it safe for her to express herself.
The more she is able to express herself, the more she feels heard and understood, and the more she is able to give a man the loving trust, acceptance, appreciation, admiration, approval, and encouragement that he needs.”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus   


“Men are motivated when they feel needed while women are motivated when they feel cherished.”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  

“‎" when men and women are able to respect and accept their differences then love has a chance to blossom ”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  


“Because she is afraid of not being supported, she unknowingly pushes away the support she needs.”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  


“Love brings up our unresolved feelings . One day we are feeling loved , and the next day we are suddenly afraid to trust love .
The painful memories of being rejected begin to surface when we are faced with trusting and accepting our partner's love .”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  
 
 
 

“we are unique individuals with unique experiences”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  

“If we are to feel the positive feelings of love, happiness, trust, and gratitude, we periodically also have to feel anger, sadness, fear, and sorrow.”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  

“Get the love you deserve and gave your partner the love and support he deserves”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  

“If I seek to fulfill my own needs at the expense of my partner, we are sure to experience unhappiness, resentment, and conflict. The secret of forming a successful relationship is for both partners to win.”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  

“Books can inspire you to love yourself more, but by listening to, writing out, or verbally expressing your feelings you are actually doing it.”
― John N. Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  

“When a woman's wave rises she feels she has an abundance of love to give, but when it falls she feels her inner emptiness and needs to be filled up with love.”
― Gray John, Men Are from Mars, Women Are from Venus  

“Wanita senang hatinya bila mempunyai teman yang dapat berbagi kesulitannya.Lelaki senang hatinya bila dapat memecahkan kesulitannya sendirian di guanya.”
― John Gray, Men Are from Mars, Women Are from Venus  
 
 
 
 
 
 

Thursday, 6 August 2015

Mengapa Anak yang Pintar di Sekolah Bisa Alami Kesulitan Ekonomi?

Going Solo by Patrick Ng
             Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitann menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya. Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.
          Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit. Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.
          Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan". Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
         Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah
          Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah. Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?" Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.
           Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".
         Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.        
          Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
            Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang. Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya. Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
           Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.
         Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.
Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.
             Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
          Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

 by Rhenald Kasali

Wednesday, 5 August 2015

Am I Wrong

NICO & VINZ LYRICS

  "Am I Wrong"

disini akan mengulas dan menyampaikan arti dibalik lirik lagu " Am I Wrong" ini, cukup ga asing dengan lagu ini yang sering diputar di radio-radio Jakarta kan?

Oooooh
Oooooh
Am I wrong for thinking out the box from where I stay?
Am I wrong for saying that I choose another way?

Dari lirik pertama ini disampaikan "Apa yang salah dengan pikiranku diluar yang dipikirkan orang-orang dan memilih pilihan dari jalan normal yang dipilih rata-rata orang". tahu sendiri kan ya guys, kalau dilingkungan yang masih belum menghargai keputusan yang kita ambil dan beda dari orang lain, pasti banyak yang "under estimate" pilihan yang kita pilih, bukannya dapat semangat dan support tentang jalan yang kita pilih malah dijatuhin. Nah, hal ini yang seharusnya saling menghargai apa yang kita pilih dan turut senang, kalaupun di endingnya bakalan tidak sesuai ekspetasi kita, ya itu proses pendewasaan yang tiap person harus melewati titik itu.

I ain't tryna do what everybody else doing
Just cause everybody doing what they all do
If one thing I know, I'll fall but I'll grow
I'm walking down this road of mine, this road that I call home

Masuk ke dalam lirik ke dua. I ain't do (Aku tidak melakukan yang orang lain lakukan), kalau ada hal lain yang di ketahui, mungkin akan jatuh tapi jatuh untuk bangkit sebagai pijakan/ lompatan ke yang lebih tinggi dan I'll grow up dan menjadi wise dalam menghadapi permasalahan hidup. dan berjalan sesuai yang saya pikirkan dan saya menyebutnya "home". Berjalan ke arah sesuai dengan pikiran dan pilihan dan itulah rumahku.

So am I wrong
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong
For trying to reach the things that I can't see?
So Am I Wrong
(Jadi, apakah salah?) salah karena menjalani apa yang diyakini dan menurutnya itu menuju rumah dengan berjalan apa yang dipikirkan. Apakah salah karena berpikir bahwa kita bisa meraih sesuatu yang nyata? Apakah salah karena mencoba untuk menggapai yang mungkin tidak terlihat? Apakah harus mengikuti apa yang oran lain inginkan dan terlihat? 

But that's just how I feel (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)

Am I tripping for having a vision?
My prediction: I'm a be on top of the world

Apakah karena pilihan atau jalan yang telah dipilih, lantas harus meraih hal yang sama orang lain dapatkan? yah, tapi itu hanya perasaan saja. Apakah mungkin terjebak dan memiliki capaian yang diinginkan? padahal perkiraan bahwa aku akan menjadi "Top Of The World"

Walk to walk and don't look back, always do what you decide
Don't let them control your life, that's just how I feel
Fight for yours and don't let go, don't let them compare you, no
Don't worry, you're not alone, that's just how we feel

ke lirik selanjutnya bahwa teruslah berjalan dan jangan berpaling ke belakang, dan selalu yakin dengan pilihan yang telah dibuat. jangan sampai itu mempengaruhi dan mengontrol kehidupanmu, karena itu cuma perasaan, yakinlah.


Am I wrong (am I wrong)
For thinking that we could be something for real?
(Oh yeah yeah yeah oh)
Now am I wrong (am I wrong)
For trying to reach the things that I can't see?
(Oh yeah yeah yeah yeah)


But that's just how I feel,
That's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see

If you tell me I'm wrong, wrong
I don't wanna be right, right
If you tell me I'm wrong, wrong
I don't wanna be right
[2x]

Am I wrong
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong
For trying to reach the things that I can't see?

But that's just how I feel, (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see

So am I wrong (am I wrong)
For thinking that we could be something for real?
(Oh yeah yeah yeah oh)
Now am I wrong (am I wrong)
For trying to reach the things that I can't see?
(Oh yeah yeah yeah yeah)

But that's just how I feel,
That's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see 
Kesimpulannya, apapun pilihan kita tetap yakin dan percaya bahwa pilihan kita tersebut adalah yang terbaik, hasil tidak menentukan siapa kita, tapi menentukan seberapa dewasa terhadap masalah diluar sana and I'm will be Top of The World!

5 tahun mengenang kepergian dia (end), August 30, 2009



Papandayan_

secara kasar, kedekatanku bersama Lisa sudah terhitung selama 4 bulan sejak kejadian di akhir bulan Januari 2004. namun secara bersih, kedekatanku itu sebenarnya belum menginjak usia 1 hari. kedekatanku baru berumur 10 jam 40 menit. banyak yang mengira kami sudah berpacaran atau semacamnya. tetapi sebenarnya diantara kami, dan terutama aku, belum berpikir ke arah itu.
sejak kejadian kamis itu, Lisa tampak lebih pucat dari biasanya. ritual jalan bersama yang ku lakukan dengan dirinya pun sekarang tak lagi rutin. Lisa lebih banyak dijemput oleh orang tuanya. ku hanya berpikir kalau itu baik untuk kesehatan Lisa, itu tak masalah bagiku. yah..., apa boleh buat. perjalanan yang menyenangkan itu harus berkurang. aku merasakan kesepian selama perjalanan ku pulang. perjalanan dari LIA sampai Stasiun Kalibata yang berjarak 1km itu, kini harus ku tempuh sendiri. aku merasa kehilangan selama perjalanan tersebut. tak hanya aku, bapak penjual es kelapa yang biasa aku beli es kelapa kepadanyapun merasa kehilangan.
"temannya yang perempuan kemana dik??" tanyanya
"lagi sakit Pak, sekarang dia sering dijemput"
"oh..., kalau ketemu salam dari saya ya dik, saya doakan supaya cepat sembuh"
"oh iya Pak, Insya Allah nanti saya sampaikan"
aku hanya bisa menghadirkan memori indah tentang perjalanan itu untuk menghiburku selama perjalanan. tak terkadang, aku pun tersenyum sendiri ketika mengingat memori itu. musim kemarau di bulan Mei itu seakan menggambarkan kekeringan hatiku. suasana perjalanan pun sepertinya menggambarkan suasana hatiku. deretan pohon bunga akasia mengering dan tak menampakkan bunganya yang berwarna pink itu. bunga-bunga di kiosk penjual bunga pun tampak lesu dan jarang yang bermekaran. hanya serakan biji petai cina yang berwarna merah delima itu yang mewarnai perjalananku.
tak terasa sebentar lagi ujian nasional akan segera bergulir. aku mengintensifkan waktu belajarku, begitu pun Lisa. ia sekarang tampak tekun membaca buku pelajaran sekolah di waktu sebelum les dimulai. tak jarang juga, kami pun sering berdiskusi, sekadar bertukar pikiran untuk menambah ilmu serta test kecil-kecilan untuk mengukur kemampuan kami. kami pun memasang target untuk pencapaian hasil ujian kami. kami sama-sama bertekad untuk dapat diterima di SMA negeri favourit yang terletak di kawasan Bukit Duri.
hal tak wajar terjadi kepadaku ketika ujian nasional digelar. aku jatuh sakit dan terdiagnosa sebagai typhus. aku pun harus mengerjakan ujian nasionalku di rumah sakit. tapi penyakitku ini tak menyurutkan semangatku. soal demi soal ku kerjakan dengan segenap kemampuan dan keyakinan diri.
ketika kembali bertemu Lisa, kami mendiskusikan tentang ujian nasional yang telah kami tempuh itu. namun kegiatan belajar bersama pun masih kami lakukan karena setelah itu ada ujian akhir sekolah. biologi menjadi pusat perhatianku. aku memang memiliki kekurangan dalam bidang ini. namun Lisa membantuku. menurut Nita yang menjadi teman sekelasnya, Lisa adalah murid kesayangan guru biologi di sekolahnya. ia sangat pandai dalam bidang ini. hubungan timbal balik dalam pelajaran sekolah terjadi diantara kami. aku pun membantu Lisa, yang menurutnya sangat kurang, dalam pelajaran fisika dan sejarah.
ketika ujian akhir sekolah berlangsung, aku tak lagi jatuh sakit, sehingga aku benar-benar bisa mengerjakan ujian itu dengan kemampuan terbaik maksimalku. setelah ujian nasional dan ujian akhir sekolah, final test dari LIA pun segera bergulir. sama seperti ujian-ujian yang lain, aku pun belajar bersama Lisa. dan ketika hari-H tiba, aku benar-benar mengerjakan dengan sungguh-sungguh. ketika ujian berlangsung aku duduk di tempat favouritku, di pojok dalam dekat jendela. sama seperti ketika kali aku masuk dan pertama kali ku bertemu Lisa, aku sering menatap ke arah jendela di sela-sela ujian. sekadar untuk memanggil kembali ingatanku teori pelajaran dalam ujian tersebut ataupun menyegarkan otak. ku lihat Lisa, yang duduk di depanku, tampak terlihat tekun mengerjakan soal-soal tersebut. di hari terakhir, atau tepatnya setelah oral test, aku dan Lisa memutuskan untuk menikmati sore itu dengan kembali berjalan kaki menuju Stasiun Kalibata. aku benar-benar menikmati sore itu. setelah hampir sebulan aku jalan sendiri, kini teman yang selalu menemani perjalananku kembali. ini adalah perjalanan terakhir kami di bulan Juni.
pengumuman hasil ujian nasional telah dikirim ke rumahku. Lisa meng-sms ku. ia menanyakan hasil ujianku. namun saat itu aku sedang tidak berada di rumah. aku sedang melakukan perpisahan SMP di Yogyakarta. ia juga mengabarkan hasil ujiannya. Alhamdulillah, aku dan dia bersyukur atas hasil ujiannya sesuai dengan harapannya dan dia optimis bisa masuk SMA favoritnya dan tak lupa ia mendoakan untuk hasil ujianku agar sama bagus dengannya. sesampainya kembali dari rangkaian acara perpisahan di Yogyakarta, aku pun langsung melihat hasil ujianku. ternyata nilaiku tak sesuai harapanku, tetapi aku puas dengan pencapaianku itu. segera aku kabari Lisa. dia menyemangati ku dengan kata-katanya yang halus. beberapa hari kemudian awal tahun ajaran baru sekolah dan awal term baru LIA dimulai. Lisa diterima di sekolah favourit pilihannya. aku sendiri diterima di sekolah favorit pilihanku di dekat rumahku. aku pun senang karena dapat bertemu Lisa kembali. sepertinya Lisa sudah kembali sehat dan bisa kembali menemani perjalanan pulangku. namun, ritual itu harus berakhir di bulan agustus. jadwal sekolahku yang bentrok dengan jadwal LIA memaksaku untuk pindah hari. ku sadari, ketika aku pindah hari, kecil kemungkinanku untuk bertemu Lisa kembali. aku pun berpamitan kepada Lisa dengan ikut mengantarnya sampai rumahnya. ketika berpamitan, aku merasakan kesedihan yang belum pernah ku alami sebelumnya. ia pun tampak sedih dengan kalimat pamitku. rasa sedih dan haru ketika perpisahan SMP di Yogyakarta dikalahkan dengan rasa sedih berpisah dengan Lisa. namun kami saling menyemangati. kami berjanji untuk menjaga pertemanan ini, setidaknya melalui sms. dalam hatiku ku berdoa kepada Yang Maha Bijaksana agar dapat segera mempertemukan aku kembali dengannya.
seminggu pertama setelah kami berpisah, kami masih berhubungan lewat sms sekadar menanyakan kabar, bercanda, berdiskusi tentang pelajaran sekolah yang baru kami terima ataupun mengucapkan selamat malam. hal ini membuat hatiku merasa dekat dengan Lisa, walaupun kami jauh. namun, di minggu kedua bulan agustus Lisa sudah jarang membalas sms-ku. memasuki minggu ketiga, Lisa sudah tidak pernah membalas sms-ku. aku tak pernah berburuk sangka kepadanya. aku hanya berpikir Lisa sibuk dengan tugas-tugas dari sekolah. namun tetap saja hatiku tidak tenang dan selalu bertanya ada apa dengan Lisa. aku sempat berpikir untuk mendatangi rumahnya untuk mengetahui kabarnya. namun, aku urungkan niatku itu karena takut mengganggunya.
hari Jumat, 20 Agustus 2004, merupakan hari yang teraneh yang pernah kurasakan. diawali ketika sholat tahajud, aku beberapa kali lupa bunyi ayat yang sedang ku lantunkan dalam sholatku itu. tak sampai disitu, ketika aku membaca Al-Quran, aku menjadi terbata-bata. beberapa tajwid salah ku lantunkan. padahal sebelumnya ini belum pernah terjadi. entah apa yang telah terjadi, hatiku benar-benar tidak tenang ketika itu. keanehan hari itu berlanjut di sekolah. aku selalu melakukan kesalahan ketika mencatat, sehingga banyak sekali coretan dalam catatanku. dalam pelajaran fisika, yang kala itu sedang praktek pengukuran, aku tidak berkonsentrasi penuh. tanpa ku sadari aku melukai jariku sendiri dengan jangka sorong yang sedang ku pegang itu.
---
(sementara itu masih di hari yang sama di tempat lain...)
ruang operasi di sebuah rumah sakit dengan peralatan lengkap di Jakarta sudah dibuka pada pukul 10.00. ada agenda operasi pengangkatan kanker otak pada hari itu. pasien hari itu adalah seorang anak SMA. para ahli bedah yang telah dijadwalkan untuk menangani pasien tersebut sudah bersiap di ruang operasi. operasi kanker otak merupakan operasi dengan kesulitan tinggi. para ahli bedah saraf harus benar-benar berkonsentrasi penuh karena kompleksnya sistem utama jaringan tubuh manusia itu. operasi kala itu berlangsung sesuai prosedur. para ahli bedah memberikan bius dengan dosis yang disesuaikan untuk lamanya operasi tersebut. lalu mereka membuka batok kepala sang pasien dengan hati-hati. setelah batok kepala terbuka, mereka mereka mulai melakukan pengangkatan sel-sel otak yang telah terjangkiti kanker tersebut dengan hati-hati. setelah semua kanker dalam sel-sel otak tersebut diangkat, dan para ahli bedah memasukan sel-sel otak yang baru ke dalam kepala sang pasien. setelah itu, mereka kembali menutup batok kepala yang tadi dibuka. operasi ini berjalan dengan sukses. namun sang pasien masih belum sadarkan diri.
---
senin pagi, sekitar jam 10.00, aku menerima sms dari Ray. ia ingin menemuiku untuk menyampaikan sesuatu yang dititipkan dari Lisa. senin sore setelah sekolah, aku langsung pergi menuju LIA. setelah sampai, aku menunggu di lobi utama LIA Pengadegan dengan sabar. tak beberapa lama kemudian bel berbunyi, tanda term pukul 15.00 - 17.00 hari senin selesai. aku pun langsung melihat Ray di tengah kerumunan murid-murid LIA di hari itu. Ray memberikanku sebuah amplop kecil berwarna pink dengan tulisan "to: Teguh" di sisi depannya. aku mengenali tulisan tangan itu sebagai tulisan Lisa. entah mungkin sedang terburu-buru, Ray berlalu meninggalkanku
"kalau bisa, bacanya di rumah aja..." sambil ia pergi. aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca ketika ia meninggalkanku. tapi aku tak tahu apa maksudnya. sesuai dengan sarannya, aku pun tidak langsung membaca surat dari Lisa tersebut di LIA. namun dalam perjalanan pulang, hatiku benar-benar penasaran akan isi surat itu. rasa penasaranku itu bisa ku redam sampai aku sampai di rumah.
malam harinya sebelum sholat tahajud, aku mengeluarkan surat Lisa dari dalam tasku. tulisan tangannya membuat kerinduanku kepada Lisa menyeruak. ku keluarkan kertas surat dari dalam amplopnya. kertas itu adalah kertas file dengan warna pink dan gambar Hello Kitty di sisi pojok kanan bawahnya. ku baca perlahan isi surat yang di tulis tangan itu:
---
Assalamu'alaikum Wr Wb
Apa kabar Guh? aku harap kamu baik-baik saja dan tetap ceria seperti biasanya. sebelumnya aku minta maaf, karena aku jarang balas sms kamu. jujur Guh, pas aku baca sms kamu, aku pun kangen sama kamu. aku juga rindu canda kamu, tawa kamu, es kelapa yang selalu kita beli ketika jalan pulang dari LIA. aku rindu semuanya tentang kamu Guh. namun, Allah memang Maha Penentu Kebijakan. kita tidak dapat melakukan itu bersama lagi.
aku juga ingin menyampikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya sama kamu. kamu cowok pertama dan satu-satunya yang bisa buat aku merasa spesial. ketika bersama kamu, aku merasakan sesuatu yang benar-benar membuat hati aku senang dan berbunga-bunga. aku sadar itu adalah cinta. aku gak tahu kamu merasakan hal yang sama atau gak. Ray dan Nita sering iri melihat kedekatan kita itu. mereka merasa cemburu dengan kamu Guh. mereka juga sering bertanya apakah aku sudah ditembak kamu atau belum. ketika aku menjawab pertanyaan mereka, mereka merasa kecewa sama kamu. lucu ya Guh, kenapa jadi mereka yang kecewa. aku sendiri pun tidak terlalu memperdulikan status tersebut. bagiku, dekat dengan kamu sudah merupakan hal yang sangat istimewa bagiku. hati aku pun gak pernah merasakan kesepian ketika dekat denganmu.
Guh, aku juga mau minta maaf. aku gak pernah cerita ke kamu tentang penyakit yang aku derita. mungkin kamu masih ingat, ketika aku hampir jatuh karena pusing. itu bukan pusing biasa Guh. itu adalah efek penyakit kanker otak yang sedang aku derita. aku tidak mau cerita ke kamu, takut mengganggu pikiranmu.
Guh, ketika kamu membaca surat ini. aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. aku sudah kembali kepada Allah SWT. terima kasih kamu sudah memberikan hari-hari yang menyenangkan sebelum akhir hidupku. terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. terima kasih sudah mau menjagaku. kamu cowok yang benar-benar spesial dalam hidup aku. kamu cowok satu-satunya dan yang pertama yang memberikan perhatian lebih kepadaku. ketika aku sudah berada di alam sana. aku akan menceritakan semua kebaikan kamu kepada orang-orang disana. aku akan menceritakan semua kenangan tentang kamu kepada teman-teman baru disana.
jangan bersedih Guh. aku percaya kamu kuat. aku percaya kamu dapat menerima kepergianku ini dengan kesabaran dan keluasan hati. aku cuma berharap kamu bisa melanjutkan sisa hidupmu dengan ceria dan semangat seperti biasanya. kamu adalah Naruto bagi aku. kamu selalu enerjik, perhatian, penyayang dan gak pantang menyerah.
selamat tinggal Guh. aku harap kita bisa dipertemukan kembali di tempat terbaik di sana. selamat tinggal cinta pertamaku.
Lisa
---
aku tak sanggup menahan air mataku yang sudah mulai keluar sejak aku membaca paragraf kedua. tak ada kata-kata yang sanggup aku lontarkan setelah membaca surat itu. hatiku seperti bunga dendelion yang mati dikala sedang mekar dan tertiup angin pelan dan halus. tahajudku pun tidak khusyuk malam itu. air mata berderai deras di pipiku. aku hanya melaksanakan 2 rakaat saja. setelah itu aku berdoa. dalam doaku aku menangis sejadi-jadinya. tidak hanya menangis karena meratapi dosa-dosaku, tapi aku juga menangis karena kepergian Lisa. aku benar-benar tak sanggup menahan kesedihanku ini. tapi aku berjanji pada diriku sendiri dan tentunya kepada Lisa. seperti yang ia inginkan, aku harus kuat. aku harus bisa menjalani hidupku ini dengan ceria dan semangat. aku harus bisa menjadi Naruto seperti yang Lisa inginkan.
kini amplop dan surat dari Lisa itu tersimpan rapi di laci meja belajarku. kalung huruf L yang berbahan stainless steel dan sudah dilapisi cat anti karat berwarna platina juga ku simpan rapi di dalam laci tersebut. kalung yang ku beli di Yogya itu tadinya akan ku berikan kepada Lisa ketika aku akan mengungkapkan isi hatiku. tapi biarlah, itu akan menjadi kenangan yang terindah dalam hidupku yang akan ku simpan juga di lubuk hatiku yang terdalam. aku juga membiarkan ruang hampa yang sudah ku persiapkan untuk Lisa dalam hatiku terkunci rapat bersama kenangan-kenangan indahnya.
Selamat tinggal Lisa. selamat tinggal cinta pertamaku...
dedicated to:
Allisa Andananingtyas
21 April 1990 - 22 Agustus 2004

(Bagian V) 5 Tahun mengenang kepergian dia, August 30, 2009




seminggu kemudian, seperti yang sudah kami janjikan dan Lisa menyanggupinya, akhirnya kami jadi pergi menonton. oral test di LIA memang hanya sebentar saja. sehingga kami masih bisa menonton untuk jadwal penayangan pukul 15.55. setelah oral test, aku dan Lisa pergi ke Musholah dulu untuk mengerjakan sholat ashar. seperti biasa, aku dan Lisa berjalan kaki dari LIA sampai Kalibata Mall. sedangkan Ray dan Nita naik angkot, mereka akan membelikan dulu tiketnya untuk kami nonton.
masih gelak tawa dan canda mengiringi perjalanan kami. matahari yang kala itu sudah menampakan warna oranyenya malu-malu menatap kami dari kumpulan nimbus yang tebal. tak lupa kesegaran es kelapa muda dengan gula putih hampir selalu menemani kami disaat jalan bersama. namun, dalam perjalan kali ini ada kejadian yang tak terduga yang terjadi pada Lisa. sekitar 25 meter setelah kios es kelapa dan 30meter sebelum gerbang kompleks perumahan anggota DPR Kalibata, Lisa berjalan terhuyung-huyung. beberapa saat kemudian keseimbangannya pun hilang. untungnya aku sigap disisi kanannya. tubuhnya yang berbobot sekitar 28kg sudah miring 20derajat ke kanan, ku tahan sekuat badan dan tenagaku. es kelapa yang ada di tangan kirinya pun jatuh dan berceceran di atas trotoar. untungnya Lisa masih menguasai kesadarannya. ia berjalan tertatih-tatih sambil ku pegangi pinggangnya mencari tempat kering yang tidak kena basahan dari es kelapa yang jatuh tadi untuk duduk. ia duduk sambil meringis, memijat kepalanya dengan tangan kirinya.
"Kenapa Lis??" tanyaku khawatir
"Gak tahu Guh, tiba-tiba kepalaku pusing banget"
"belum makan emangnya?? aku beliin obat ya di situ terus gak usah nonton deh sekarang, biar kamu pulang dan istirahat"
"gak usah Guh, gak apa-apa, bentar lagi juga hilang pusingnya"
"tapi kelihatannya kamu pucat banget Lis"
"gak apa-apa Guh, makasih, yukk, udah agak mendingan nih" katanya sembari bangkit. namun keseimbangan tubuhnya belum sepenuhnya ia dapatkan. ia hampir jatuh lagi, untungnya aku sigap dan kembali menahan tubuhnya itu. ku suruh dia duduk kembali.
"tuh kan, kamu tuh emang sakit, yaudah aku beli obat ya?? dan gak usah nonton"
"beliin obat aja Guh, kita tetap jadi nonton, gak enak sama Ray dan Nita, tolong belikan Bodrex aja."
"lho harusnya mereka yang gak enak sama ka...," sebelum selesai Lisa memotong kalimatku
"aku gak mau mengecewakan mereka Guh,"
"hmmm..., ya sudahlah, tunggu sebentar ya" kata ku. setelah itu aku berlari ke warung terdekat untuk membeli obat dan air mineral dan segera berlari kembali ke Lisa. dia masih duduk memegangi kepalanya.
"ini Lis obat dan airnya"
"makasih Guh" segera ia minum obat yang aku berikan. beberapa saat kemudian, ia mencoba bangkit kembali. keseimbangan tubuhnya yang belum pulih benar membuatku bersiap lagi dengan memegangi tangannya yang halus itu, jikalau ia terjatuh lagi. tetapi kali ini dengan cepat ia mampu menahan berat tubuhnya sendiri. setelah ia mendapatkan kembali keseimbangannya, kami melanjutkan perjalanan. dengan langkah kecil kami melanjutkan perjalanannya. langkah anggun Lisa yang dulu kini tampak tidak beraturan. aku semakin khawatir dengan kondisinya saat itu.
beberapa menit kemudian kami sampai di bioskop Kalibata Mall. kami sampai pas dengan mulai dibukanya pintu bioskop yang memutar Ada Apa Dengan Cinta. ku lihat Ray dan Nita sudah menunggu dengan cemas di depan pintu bioskop 2. segera kami mendekati mereka.
"ada apa Guh, kok lama banget??" tanya Ray
"ini Lisa, tadi dia sakit, kepalanya pusing banget katanya. tadinya mau gue batalin biar dia pulang dan istirahat. tapi dia tolak"
"loe beneran gak apa-apa Lis??" sekarang Nita bertanya ke Lisa
"gak, gak apa-apa kok Nit, yukk masuk aja, jangan terlalu mengkhawatirkan aku" jawab Lisa
"yaudah deh, yuk masuk, nih tiket kalian." kata Nita sembari meberikan 2 buah tiket bioskop kepadaku.
133 menit lama film AADC yang kami tonton. beragam reaksi ku lihat dari para penonton yang menonton bersama kami. aku melihat ke arah Lisa, aku tak tahu apakah ia menonton pertunjukkan bioskopnya pada saat itu. karena ketika ku lihat dia sedang memejamkan matanya. kalau seandainya ia tertidur, itu lebih baik menurutku. setelah film usai ku bangunkan Lisa dengan mengguncangkan pelan badannya.
"Lis, bangun, udah selesai filmnya"
"oh..., maaf, aku ketiduran, pengaruh obat kayaknya"
"yah, kok loe tidur Lis, padahal kan filmnya bagus" kata Ray
"maaf, tapi aku ngantuk banget, tapi aku tadi juga sempat nonton banyak kok"
"oke, yukk keluar" kata Ray lagi. kami menunggu sebentar sampai antrian penonton yang lumayan banyak itu habis, lalu kami keluar. setelah di luar, Nita mengajak kami untuk makan dulu. waktu pada saat itu menunjukan pukul 17.15, aku pun bertanya kepada Lisa tentang ajakan Nita tersebut.
"Gimana Lis, kamu mau makan dulu??" tanyaku
"hmmm..., iya deh aku makan dulu" jawab Lisa.
"oke, mau makan dimana kita??" tanyaku pada Nita
"KFC aja kali ya, lumayan murah soalnya daripada McD" jawab Nita
"yaudah, yukk..." ajak Ray.
ketika makan, ku lihat Lisa tampak murung dan tidak bersemangat memakan paket Rp 10.000 KFC.
"Kenapa Lis, dihabiskan donk makanannya" kata ku
"Duileh Teguh, perhatian banget ma Lisa, hahahaha..."
"bukannya perhatian gue, tapi khawatir aja, coz tadi dia udah mau pingsan"
"Hah...!? iya Lis??" kata Nita Kaget. Lisa hanya menjawabnya dengan senyum. selesai makan aku mengajak mereka untuk sholat maghrib dulu sebelum pulang. setelah sholat maghrib, kali ini secara sadar aku memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa akan kesehatan Lisa. baru kali ini aku memanjatkan doa secara khusus dan spesifik kepada seorang teman, terlebih teman wanita. sangat jarang aku memanjatkan doa dengan menyebutkan nama seoang teman dalam doa-doaku. aku terbiasa berdoa untuk teman-temanku secara umum. sepertinya memang ada sesuatu yang membuatku begitu perhatian kepada Lisa. perhatian lebih yang ku berikan secara fisik dan imateri memang sangat besar kepada Lisa. mungkin ini lah yang banyak orang bilang tentang cinta.
selesai sholat kami pun pulang. aku memutuskan untuk mengantar Lisa pulang, setidaknya sampai depan rumahnya. aku pun menelpon orangtuaku dulu untuk meminta izin untuk pulang malam. atas berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk naik angkot saja ketimbang naik kereta. kami naik angkot 02A yang berwarna biru muda jurusan Kp. Melayu via Tebet. angkotnya ketika itu masih kosong. Ray, Nita, Lisa dan aku masuk bergantian. kami mengambil tempat duduk di bagian dalam. Ray dan Nita duduk di kursi 6. aku dan Lisa berdampingan duduk di kursi 4. LIsa duduk dekat jendela belakang. selama pejalanan di angkot aku, Ray dan Nita banyak mengobrol. sedangkan Lisa sepertinya tertidur. tiba-tiba Lisa menyandarkan kepalanya di pundakku. Ray dan Nita hanya bisa tersenyum melihat kejadian itu. aku pun tak dapat dan tak mungkin mengelak. jadi selama perjalanan sampai depan komplek perumahan Tebet, Lisa tertidur diatas pundakku. ku singkirkan poni yang menutupi keningnya dengan telapak tangan kiriku untuk merasakan suhu tubuhna saat itu. badannya hangat, sepertinya dia memang benar-benar sakit.
sekitar 45menit, kami lalui perjalanan dari Kalibata sampai komplek perumahan Tebet. dengan aba-aba dari Ray untuk membangunkan Lisa karena sudah sampai, ku tepuk pundak kanan Lisa pelan untuk membangunkannya.
"Lis bangun, udah sampai depan komplek rumah kamu nih" kataku
"Oh..., eh maaf Guh, aku tidur di pundak kamu"
"biasa aja kali Lis, yuk turun" ku keluarkan uang sepuluh ribuan untuk membayar angkot untuk 4 orang. kami berjalan menyusuri komplek perumahan itu. sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah dengan pagar hitam dan cat tembok putih. rumah ini adalah rumah Lisa. tidak berbeda jauh dengan rumah-rumah di komplek itu bentuknya. rumahnya terbilang luas. ku perkirakan luasnya mencapai 500 - 600 meter2. rumahnya memiliki halaman depan yang luas. kira-kira halaman tersebut memiliki luas sekitar 27m kuadrat. rumput golf menyelimuti hampir 3/4 halaman depan rumahnya. ada jalan setapak yang berisikan ratusan batu koral putih yang bersih. 3 pohon Hyuphorbe lagenicaulis (Palem Botol) berjejer rapi di balik pagar. dan 3 pohon kembang sepatu yang telah dipangkas menyerupai tumbuhan jamur tertata rapi di taman tersebut. disisi kanan taman tersebut ada sebuah air terjun buatan bertingkat tiga. suara percikkan airnya mampu membuat tenang pikiran orang-orang yang mendengarnya. namun yang menarik perhatianku bukanlah suara percikkan air tersebut. melainkan tatanan rapi berbagai jenis bunga yang tertata begitu rapih di sekeliling air terjun itu. 5 tanaman kamboja jepang dengan mahkota bungannya yang berwarna pink itu mekar penuh dan menunjukan pangkalnya yang berwarna putih berdiri rapi di sisi kanan air terjun. di sebelh kamboja jepang, ada kumpulan Rosa alba (mawar putih) yang juga sedang memekarkan bunganya berjejer rapi mengelilingi air terjun sampai disisi kirinya. lalu terakhir ada tanaman melati yang pula memekarkan bunganya. semerbak wangi bunga tersebut menyeruak dihembus angin-angin kecil yang dihasilkan oleh percikkan air terjun. Ray menggeser pagar dorong rumah Lisa ke kanan dan kami masuk. Lisa mempersilahkan kami duduk di kursi yang sudah ada di teras rumahnya. kami duduk yang berasal dari anyaman bambu yang sepertinya berasal dari daerah pengrajin bambu di Kulonprogo. ku perhatikan lagi taman di rumahnya itu. tak hanya di sekirat air terjun buatan yang memiliki bunga. tepat di depan kami, tepatnya di depan teras juga berbjejer tanaman Tunakarmen. namun, tanaman ini belum berbunga. tanaman ini baru berbunga ketikan musimkering tiba. 4 pot gantung berisi tanaman wijaya kusuma atau bunga sedap malam yang siap memekarkan kuncup bunganya. konon katanya orang yang menanam tanaman ini adalah orang yang paling sabar dan penuh kasih sayang diantara yang lain.
tidak beberapa lama kemudian Lisa keluar lagi membawakan sebotol sirup yang berisi air putih dingin dan 3 buah gelas. ia pu duduk bersama kami di kursi yang terbuat dari anyaman bambu tersebut. lalu seorang wanita keluar. Lisa memperkenalkan wanita tersebut sebagai Ibunya. lalu suasana akrab pun terbangun diantara kami. dalam pembicaraan kami malam itu, Ibunya Lisa banyak bercerita tentang pribadi Lisa kepadaku. diantara orang-orang yang berada di teras seluas 9m2 itu, aku adalah orang baru. dan tak ku sangka, taman yang indah dengan berbagai macam bunga yang ada disana, semuanya ditanam dan dirawat oleh Lisa sendiri. dalam hatiku, ku puji dan ku kagumi ketelatenan dan kesabaran Lisa dalam merawat bunga-bunga tersebut. hal ini semakin membuatku jatuh hati kepada Lisa. aku tak bisa memakai kata-kata lain selain kata sempurna untuknya. dia cantik, dia pintar, dia penyayang, dia penyabar.
to be continued...

Tuesday, 4 August 2015

( Bagian IV) 5 Tahun Mengenang Kepergian Dia, August 30, 2009

 


Kamis lusanya, kami jalan bersama lagi. kali ini dia yang menraktirku es kelapa. selama perjalanan itu kami membicarakan banyak hal. aku sendiri sampai heran, karena ada saja topik yang kami bicarakan. hatiku benar-benar berbunga-bunga pada saat itu. semua keterpesonaanku terhadap Lisa benar-benar terbingkai rapi dalam hatiku. suasana sore seakan memberi warna tambahan dalam bingkai tersebut. matahari yang masih terlihat dan memancarkan warna oranyenya menyinari rambut Lisa yang kali ini ia jepit ke belakang helaian rambut di sisi kepalanya membuatnya tampak lebih berkilau. emperan kios tanaman hias yang menjual berbagai macam bunga seperti Resaceae, Ixora javanica, Dendrobium orchidaceae dan lain-lain di bantaran rel kereta menambah keasrian suasana hatiku. rasanya aku ingin sekali membeli satu tanaman Impatiens balsamia yang bunga berwarna ungunya itu sedang mekar dan ku berikannya kepada Lisa. barisan Leucaena leucocephala yang berjajaran sepanjang jalan yang rindang menambah damai hati ini. biji petainya yang berwarna merah terang itu berserakan jatuh dari batangnya yang bergoyang dihembus desiran angin sepoi-sepoi. ditambah lagi dengan deretan Acacia auriculiformis atau pohon bunga kertas yang tumbuh dari balik pagar setinggi 3 meter kompleks perumahan anggota DPR Kalibata itu sedang memekarkan bunga-bunganya yang berwarna merah jambu seakan melambangkan warna hatiku pada saat itu. gelak tawa mewarnai perjalanan kami saat itu. pembicaraan mengenai hobi, hewan kesayangan sampai tebak-tebakan lucu membuat diriku seakan tak ingin cepat-cepat menyelesaikan perjalanan singkat ini. di akhir perjalanan kali ini aku mengantarkannya masuk ke dalam stasiun. sebelum ia naik kereta, aku sempat meminta no hpnya. sampai sekarang aku masih dapat mengingat no hp-nya. bahkan aku masih menyimpannya di phonebook di hp-ku.
dua bulan sudah kedekatanku dengan Lisa. segala macam ledekkan dan candaan dari teman-teman dan guru LIA kelas FSC 4 ruang 314 sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa bagiku dan Lisa. tak hanya guru tetapku, Mrs. Dosche, tetapi juga guru pengganti yang biasa menggantikan Mrs. Dosche, Mr. Reza ikut-ikutan meledekku. aku dan Lisa bahkan sudah menjadi pasangan tetap ketika ada tugas dalam buku modul yang bercirikan "role play". kedekatanku dengan Lisa membuat sesuatu yang berbeda dan aneh dalam diriku. entah apa yang berbeda dengan Lisa. setiap dekat dengannya aku merasakan sebuah ketentraman hati yang hanya bisa dikalahkan oleh rasa tentram ketika ku sholat. sketsa-sketsa berbagai mimik dari wajah Lisa selalu menghiasi hariku walaupun dia tak dekat denganku. aku tak bisa menjelaskan seluruhnya perasaan ini. baru pertama kali ku rasakan hal ini. aku tak tahu apakah Lisa juga merasakan hal yang sama denganku ini. keanehan berbeda juga diungkapkan oleh dua sahabat karib Lisa. suatu hari ketika kelas belum pernah dimulai, kami berempat bercanda dan mengobrol di kelas.
"Guh, gw merasakan keanehan dengan Lisa." Kata Ray
"Hah...!? aneh gimana maksud loe??" jawab ku
"Iya, gw aneh aja ma tuh anak, kalo jalan ma kita-kita dia lebih pendiam, tapi kalo dekat-dekat lu kayaknya dia banyak ngobrol. jujur gw belum pernah lihat Lisa tertawa lepas yang kayak tadi pas becanda ma loe."
"ah yang bener loe, mang gitu Lis...??" tanyaku pada Lisa
"emang iya, ya...?? loe aja kali Ray yang gak pernah liat gw ketawa lepas" Jawab Lisa
"lah nih anak, malah tanya balik, tapi biasanya sih yang kayak gini terjadi karena kalian udan saling cinta" timpal Nita
"iya, lagian sebenarnya kalian berdua udah pacaran apa belum sih?? gue liatin kayaknya makin hari makin lengket aja, hahahahaha..." kata Ray. setelah Ray berkata begitu aku dan Lisa saling memandang. ku lihat wajah Lisa yang agak memerah menahan malu dengan senyum manisnya yang khas. begitu juga aku, aku pun tersenyum dan tak berapa lama kemudian kami berdua tertawa.
"hahahahaha..., jadian...?? belum kali, tenang aja kalo udah juga bakalan aku kasih tahu, hahahahah..." kata Lisa. aku hanya bisa tertawa mendengarnya.
"oke, eh ngomong-ngomong abis oral test minggu depan kita nonton yuk...??" kata Ray.
"Hmmm..., nonton apa?? dimana" tanyaku
"AADC aja, gw belum nonton tuh, kita nonton di Kalibata Mall aja, gimana" jawab Ray. pada waktu itu memang film Ada Apa Dengan Cinta sedang booming-boomingnya. teman-teman sekolahku juga sering membicarakannya. film yang dibintangi oleh Dian Sastro dan Nicholas Saputra itu memang menjadi salah satu ikon kebangkitan film Indonesia pada saat itu.
"gue sih oke-oke aja, Gimana Lis??" tanyaku pada Lisa.
"ah Lisa mah kalo loe ikut, dia juga pasti ikut, hahahahaha" timpal Nita sebelum Lisa menjawab.
"hmmm..., lihat minggu depan aja ya, takutnya ada tugas" jawabnya polos.
tak berapa lama, bel tanda kelas dimulai berbunyi. selama pelajaran hari itu, aku merenungkan perkataan Nita dan Ray tentang cinta dan pacaran. apakah perasaan ini yang disebut cinta. aku benar-benar tidak mengerti tentang hal ini. aku bisa diibaratkan dengan bayi yang baru lahir di dalam dunia cinta ini. banyak memang teman-temanku yang sudah mulai berpacaran bahkan sejak dari SD dahulu. masih ku ingat bagaimana Vima, teman SD-ku, menitipkan sepucuk surat kepadaku untuk diberikan kepada senior yang juga tetanggaku, Bang Hakim. lalu beranjak SMP ada temanku Asti yang menangis karena tertangkap berkirim surat di kelas dan diledek oleh guru bahasa Inggris, Pak Ariffudin. aku benar-benar baru di dunia cinta ini. aku makin penasaan dengan kata cinta ini. rasa penasaranku ini membuat diriku tidak berkonsentrasi dalam pelajaran. sampai-sampai aku tidak sadar kalau aku dipanggil oleh guruku dan tepukkan keras dari Chandra menyadarkanku kembali.

( Episode III) 5 Tahun Mengenang Kepergiannya, August 20, 2009

 


Ku perhatikan gerakan tangannya yang halus menggoreskan garis-garis halis di atas bukunya. Ku perhatikan sepertinya aku mengenali karakter yang sedang ia gambar. Itu adalah gambar Naruto, tokoh kartun kesukaan ku, langsung saja ku buka percakapan kembali dengannya dengan rasa penasaranku.
“suka Naruto juga??”
“iya, kamu juga Guh??”
“iya, sebenarnya gue, eh, aku...,” dia tersenyum “awalnya suka dengan soundtrack openingnya, yang judulnya ROCKS itu. Tapi setelah ngikutin kartunnya jadi penasaran dan ketagihan gitu, hehehehehe....”
“oh sama Guh, awalnya aku juga suka soundtracknya, tapi aku suka sama endingnya”
Kartun Naruto, setelah episode ke 15 berganti ending, lalu aku tanyakan ending yang mana yang dia suka.
“ending yang mana?? yang pertama atau kedua??”
“dua-duanya bagus, tapi aku gak tau judulnya,”
“yang pertama itu judulnya Harmonia, kalo yang kedua judulnya Wind. Kamu ngoleksi komiknya juga” dengan lancarnya sekarang aku bisa melafalkan sapaan “aku-kamu”.
“gak juga sih guh, kamu koleksi komiknya juga??”
“iya”
“kapan-kapan aku boleh pinjam ya”
“okay”
agak lama kami mebicarakan tentang Naruto. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu yang aneh dengan suasana kelas. Benar saja, ketika aku mengalihkan pandangan ke sekeliling kelas, guru dan teman-teman sekelasku memperhatikan kami yang sedang mengobrol dengan wajah yang penuh senyum. Dan tak beberapa lama kemudian pecah kembali tawa dan candaan mereka yang diarahkan kepadaku dan Lisa.
“Cie..., makin akrab nih..., hahahahaha...” celetuk Ray, salah satu teman karib Lisa yang duduk di pojok kanan kelas. Untuk kesekian kalinya aku dibuat malu oleh suasana kelas, begitu pun Lisa. Setelah itu, kegiatan kelas dilanjutkan kembali.
“Guh, kamu suka jalan kaki ya...” tanya Lisa yang sekarang membuka percakapan denganku.
“Ha...?? eh iya Lis, kenapa??”
“gak kok, aku cuma sering lihat kamu dari angkot jalan kaki, dan sepertinya kamu menikmati suasana jalanan sampai depan stasiun itu.”
“oh iya, abis emang enakan jalan Lis, lebih adem jalannya dan banyak pohon, jadinya aku menikmati perjalananku itu”
“kayaknya asyik Guh, nanti aku boleh ikut gak??” Ini lah kata-kata yang benar-benar membuatku kaget. Aku sampai terbengong-bengong mendengarnya. Namun kata-kata tadi melekat erat dalam memori dan hatiku. Dan aku benar-benar tak menyangka kata-kata tersebut keluar dari bibirnya yang tipis manis itu.
“Guh, gimana?? boleh gak...??” tanyanya lagi membuyarkan ketercenganganku.
“hmm..., iya boleh, tapi gak apa-apa nih, kamu gak kecapean...??”
“ah gak juga kok...” dan percakapan kami pun berlanjut. Inilah awal kedekatanku dengan Lisa. Tadinya aku pikir Lisa bukanlah cewek yang senang mengobrol. Itu karena diantara 2 teman karibnya yang senang mengobrol memang hanya dia yang lebih pendiam. Tak lama kemudian bel tanda kelas hari itu selesai berbunyi. Aku merapikan dan memasukan buku modul dan catatanku ke dalam tas punggungku yang berwarna hitam bermerk “Westpack” itu. Setelah ku kenakan tasku, ku tanyakan lagi Lisa tentang ajakan dia tadi.
“jadi, jalan kaki bareng ke depan??”
“Jadi Guh, tapi aku sholat dulu”
“oke, aku juga sholat dulu, yaudah nanti yang selesai duluan tungguin di depan musholah ya??”
“oke”
kami pun keluar bareng dari kelas. Tak ketinggalan, candaan dari teman-teman terutama dari Ray dan Nita, sahabat karib Lisa, kembali meledekku. Sesampainya di depan musholah, aku bergegas melepas sepatu warriorku lalu aku berwudhu. Setelah itu, aku keluarkan sarungku. Sarung itu adalah hadiah sunatanku ketika aku masih duduk di kelas 5. sarung itu berwarna dasar hijau dengan garis kotak-kotak berwarna merah. Ketika akan masuk ke musholah bagian laki-laki, aku berpapasan dengan Lisa yang baru selesai wudhu. Parasnya tampak lebih cantik ketikan terkena air. Wajahnya seakan memancarkan sinar yang cerah dan terang. Percikkan air di wajahnya juga membuat wajahnya terlihat lebih anggun. Matanya yang agak sipit ketika tidak memakai kacamata tampak lebih berbinar. Rambutnya yang berponi belah pinggir itu tampak berbeda namun lebih memesona hatiku dibanding ketika ia memakai bando putih tadi. Ia melewatiku sambil tersenyum dan aku membalasnya pulan dengan senyumku
khusyuk aku dalam sholatku. Ku tinggalkan beban tugas sekolahku. Ku tanggalkan keterpesonaanku terhadap lLisa dan ku serahkan semuanya kepada Allah SWT. Selesai sholat, ku baca Quran sakuku yang biasa ku bawa. Ku baca beberapa ayat dan setelah itu aku berdoa dan bergegas keluar musholah. Segera ku pakai sepatuku. Ku perhatikan sekeliling, sepertinya Lisa belum selesai sholatnya. Jadi aku akan menunggunya. Ku keluarkan Sony Ericsson T100-ku dan memainkannya untuk menunggu Lisa turun. Ini adalah Hp pertamaku yang diwariskan oleh orang tuaku kepadaku. Aku memang sering mendapat barang warisan orangtuaku. Tak lama kemudian Lisa turun. Ia mengambil sepatunya dan duduk dekat denganku dan memakai sepatu warriornya yang bermerk “NB” itu. Halus gerakannya mengikat tali sepatunya. Indah simpul yang ia buat menyerupai kupu-kupu.
“yuk...” ajaknya berbarengan dengan ia bangkit dan mengenakan tas selempangan birunya itu. Aku pun langsung memasukan Hp-ku ke dalam tas dan bangkit dari dudukku. Kami berdua pun jalan menuju pintu gerbang LIA Pengadegan. Disana ku lihat Ray dan Nita tampaknya sedang menunggu Lisa.
“Guh, aku bilang ke mereka dulu yah??”
“Oke, aku juga mau beli permen karet dulu, sekalian aja ajak mereka, nanti tunggu di situ aja ya??”
“oke” katanya sambil mempercepat langkahnya menuju Ray dan Nita. Aku sendiri berbelok ke mini market LIA untuk membeli permen karet. Aku terbiasa membeli permen karet untuk mengusir kebosananku ketika aku jalan kaki. Ketika aku selesai membeli, Lisa sudah menungguku di luar bersama Ray dan Nita.
“maaf jadi nunggu...”
“ah gak apa-apa kok” kata Lisa
“eh Ray, Nit, ikut gak??” ajakku
“gak ah, takut ganggu pdkt kalian, hahahaha” kata Nita meledekku lagi
“biasa aja kali...” kataku sambil tersenyum
“jagain si Lisa ya Guh, kalo jatuh lu gendong ya, hahahahaha” kali ini Ray meledek ku
“hahahaha, iya, yaudah duluan ya...??”
“oke...”
aku dan Lisa pun melanjutkan perjalanan kami. Seperti dalam kelas, kami diam selama menit-menit awal perjalanan kami. Aku menawarkan permen karet rasa pepermint kepada Lisa. Dan dia menerimanya. Aku coba buka percakapanku kembali dengan Lisa. Kali ini aku memberanikan menanyakan rumahnya.
“rumah lu dimana Lis??”
“di Tebet Guh”
“kok jalannya ke arah sini, bukannya Tebet kesana ya??” kataku sambil menunjuk ke belakang kami dengan jempolku.
“gak, aku naik kereta, nanti aku turun di stasiun Tebet”
“oh...” Ku perhatikan Lisa tampak lelah dan tersenggal-senggal nafasnya ketika ia berbincang denganku selama perjalanannya bersamaku. Aku memang tipe pejalan cepat. Aku pernah mencoba menghitung kecepatan langkahku. Dan aku mendapatkan bahwa aku sanggup menempuh 4 meter dalam kurun waktu 1 detik. Karena Lisa tampak lelah mengikuti langkahku, aku memperlambat langkahku. Ku perhatikan langkah Lisa yang tampak anggun dan feminim. Bila ku tarik lurus garis selebar 2-3cm di jalan tempat ia melangkah, maka sisi-sisi garis tersebut akan terus bersinggungan lurus dengan sisi dalam sepatu. Di jalan menuju ke arah stasiun Kalibata tersebut ada sebuah kios es kelapa. Aku biasa membeli es kelapa disitu. Selain melepas dahaga, kelapanya menjadi pengganjal perut dan tambahan energiku dalam perjalanan. Aku pun mengajak Lisa untuk beli es kelapa.
“beli es kelapa yuk Lis, kamu mau gak??”
“hmmm....” ia bergumam dan tampak ragu dan ku potong gumamannya.
“aku beliin deh, kamu haus kan?? hehehehehe”
“hmm..., sebenarnya iya, hehehehehe..., oke deh, makasih Guh” lalu kami menuju kios es kelapa tersebut.
“Pak, es kelapanya 2, di plastik” kataku
“Gula putih atau gula merah Dek”
“kamu apa Lis...??”
“Gula putih Guh”
“gula putih dua-duanya Pak” kataku. Selama menunggu es kelapa selesai, aku kembali membuka percakapan dengan Lisa.
“kamu sekolah dimana Lis??”
“aku di Sermabel (SMPN 115), kamu??”
“aku di V-gho (SMPN 150)”
“dimana tuh??”
“di belakang kramat jati”
“oh...” tak berapa lama, es kelapa yang kami pesan selesai dibuat. Ku keluarkan uang lima ribuan untuk membayarnya dan kami meninggalkan kios itu. Es kelapa kali ini tampak lebih manis. Entah apa yang membuatnya terasa lebih manis. Tapi aku menikmatinya. Di sisa perjalanan ke arah Stasiun Kalibata, kami membicarakan tentang beberapa pelajaran favorit di sekolah. Tak ku sangka, ia memiliki mata pelajaran favourit yang sama denganku. Aku dan dia menyukai matematika, fisika dan sejarah. Selain itu, ia menyukai biologi. Sangat menyenangkan bisa mengobrol banyak dengannya. Selama aku berbicara dengan seorang cewek seumuranku pada waktu itu, aku belum pernah berbicara selama dan seintensif itu.
Tak terasa perjalanan kami ke Stasiun Kalibata sudah sampai. Di akhir perjalananku bersamanya pada hari itu Lisa berpamitan.
“Makasih Guh, besok aku boleh ikut lagi ya...??”
“Sama-sama Lis, boleh aja, maaf tadi bikin kamu capek jalan bareng aku”
“oh gak apa-apa, harusnya aku yang minta maaf udah bikin kamu melambat”
“biasa aja Lis”
“Oke, sampai ketemu hari Kamis ya??
“oke, hati-hati di jalan Lis”
“Iya” katanya sambil masuk ke Stasiun Kalibata. Ku lihat ia dari belakang. Rambutnya yang menutupi punggungnya tampak berkilau terkena sinar matahari yang datang dari depannya. Memang rambutnya itulah yang benar-benar memesonaku. Lalu aku lanjutkan perjalanan kakiku menuju Cililitan. Entah apa yang sedang ku rasa. Selama perjalanan hatiku terasa gembira dan bahagia.
to be continued...

( Episode II ) 5 Tahun Mengenang Kepergian Dia, August 20, 2009

Hari-hariku di tempat les bahasa inggris tersebut berlalu dengan normal. hingga pada suatu hari, ketika itu aku memang sedang ada kegiatan di sekolahku. jadi, aku datang ke tempat les itu dengan terburu dan masih mengenakan baju putih-biru SMP-ku. aku sampai di sana pukul 3 lewat sedikit. aku langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 3. sebenarnya ada lift yang dapat aku gunakan. tapi aku adalah tipe orang yang malas untuk menunggu. walaupun itu sebebnarnya tidak membuatku capai. ketika sampai di lantai 3, ketika itu pula pintu lift terbuka, dan keluarlah Lisa dengan masih mengenakan seragam SMP-nya juga. masih dengan gaya feminimnya, rambut yang tergerai rapi dan indah, bando kain yang berwarna putih, tas selempangan biru dan sepatu warrior serta kaus kai putih sebetis. saat ia memakai rok biru SMP yang sepanjang lutut itu benar-benar memesona hatiku. hal inilah yang menegaskan kalu ia memang cocok disebut sebagai cewek feminis. lalu aku dan dia saling melihat, dan seketika itu pula aku melempar senyum kepadanya dan dibalas senyumku dengan senyumnya yang menawan dan anggun dari bibir tipisnya itu. karena berpikir ada teman terlambat, aku memperlambat langkahku sambil mengatur nafasku yang agak tersenggal-senggal.

sesampainya di depan pintu kelas, aku mengetuk pintu dan membuka pintu kelas. ku persilahkan Lisa untuk masuk terlebih dahulu dengan aku masih memegang daun pintu kelas yang terbuka ke dalam. ketika ia lewat di depanku, kibaran rambutnya yang panjang kembali memesona hatiku. indah dan menenangkan, itulah kesanku ketika melihat hal tersebut. di dalam kelas tersebut tersisa 2 kursi kuliah, yang satu agak goyang mejanya, yang satu lagi terlihat lebih normal dan bagus. Lisa sepertinya bingung memilih kursi mana yang akan dia duduki. sepertinya ia tidak enak denganku dan akan memberikan kursi yang agak bagusan untuk diriku. tetapi aku menolak, aku malah mempersilahkan ia duduk di kursi yang bagus itu. aku melakukan hal tersebut bukan untuk mencari perhatian atau dianggap lebih gentle, tetapi sikap tersebut memang selalu muncul. aku lebih suka memberikan tempat yang bagus untuk orang lain ketimbang untuk diriku, walaupun aku bisa saja mendapatkannya. hal tersebut memberikan suatu kepuasan dan kesenangan dalam batinku. ketika kami duduk, guru kelasku berkata sambil tersenyum
"that's what man should do to woman??"
beberapa saat kemudian, pecah keheningan kelas dengan nada-nada yang mengejek kepadaku dan Lisa.
"Cie Teguh..., Cie Lisa...,"
aku dan Lisa hanya bisa tersenyum dan saling memandang. ku lihat wajah LIsa yang memerah menahan malu. ketika aku memandang Lisa, guruku kembali mengucapkan ledekannya yang membuat semakin riuh suasana kelas.
"kayaknya Teguh dan Lisa emang cocok ya, hahahaha..."
"Cie...,"
aku tidak tahu, atas dasar apa guruku itu melontarkan kata-kata seperti itu. ketika aku memandang seisi kelas, memang hanya aku dan Lisa yang mengenakan seragam SMP. setelah suasana agak tenang, guruku melanjutkan penjelasannya yang terputus karena kedatangan kami berdua. lalu dalam salah satu bagian dari pelajaran tersebut terdapat tugas kelompok yang harus dikerjakan oleh 2 orang. dan ketika itu pula, guruku kembali meledekku dan Lisa.
"2 orang sudah terpilih, sisanya buat kelompok sendiri ya??" kelas hening sejenak dan kemudian meledak dengan tawa ceria beserta ledekan yang diarahkan kepadaku dan Lisa.
"Cie..., kayaknya jadi nih, hahahaha..."

yah apa boleh buat, aku akhirnya bekerja sama dengan Lisa. tugas kelompok tersebut hanyalah membuat sebuah dialog percakapan dengan menggunakan adjektive clause. mungkin karena kami sama-sama pemalu, agak lama kami sibuk dengan "kegiatan" sendiri. aku masih memainkan pulpenku dan ia mencoba menuliskan sesuatu. dengan agak canggung aku memulai percakapan tentang tugas yang akan kami buat. ku beberkan ide-ideku tentang percakapan yang ada di otakku. ia pun juga memberikan ide-idenya. suaranya sangat merdu dan indah di telingaku. seperti gemercik air yang mengalir dari mata air pegunungan. begitu menenangkan dan tetap memesona hatiku. dan setelah ia memberikan ide-idenya, kami pun mendiskusikannya untuk memilih percakapan mana yang mudah yang akan kami pilih. ia merupakan salah satu cewek yang cerdas yang ku kenal. tutur katanya begitu halus. setiap diksi yang ia pilih seakan menegaskan dia adalah wanita feminis yang supan dan santun. agak canggung sebenarnya aku mengobrol dengannya. dia menggunakan sapaan "aku-kamu" sedangkan aku masih menggunakan "gw-lu". tapi aku mencoba mengikuti kesopanannya dengan menggunakan sapaan "aku-kamu". walaupus sering terceplos kata "gw" atau "elu", sepertinya dia menanggapinya dengan senymannya yang indah itu dan memakluminya. selesai berdiskusi dan memilih kami pun mencoba membuat dialog dan mencoba menghafalkannya. aku tak tahu, apakah karena kami sudah mengerti tentang pelajaran ini atau memang mudah, kegiatan menghafal ini tidak memakan waktu yang cukup lama. ketika yang lainnya masih sibuk menghafal dan bahkan masih ada yang memberikan idenya. kami sudah selesai, dan ketika itu pula aku meminta persetujuan Lisa untuk maju duluan. dan ia menyetujuinya. dan kami pun maju, tak lupa disertai dengan ledekan-ledekan yang benar-benar membuatku tersipu malu. kami pun melaksanakan tugas peran tersebut dengan cepat dan baik. ketika kami selesai pun tak lupa guru dan teman-teman kelasku kembali meledek ku dan Lisa.
setelah melaksanakn tugas itu, kami kembali melakukan "kegiatan" masing2. aku kembali memainkan pulpenku dan dia menggambar di buku modul. aku memberanikan diri untuk membuka percakapan.
"suka gambar...??" tanyaku ramah
"iya" jawabnya singkat
to be continued...

( Episode I ) 5 Tahun Mengenang Kepergian Dia, August 20, 2009


Ini adalah cerita bersambung tentang kisah cinta gw 5 tahun yang lalu bersama seorang gadis yang amat gw cintai sampai saat ini. cerita ini sengaja gw tulis untuk mengenang kepergiannya untuk selamanya begitu cepat dari kehidupan cinta gw itu. dan gw harap ketika dia membacanya dari atas sana dia juga bisa mengenang kisah cintanya tersebut. yaudah langsung saja.

6 Januari 2004, 14:55, ku duduk terdiam di pojok kelas sebuah lembaga pendidikan bahasa asing di bilangan pengadegan. aku menatap menembus jendela dari kelas yang berada di lantai tiga itu ke arah sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di areal parkir sebuah gedung. dari bentuk bangunannya, aku dapat mengenali bahwa bangunan yang ada di seberang tempat para anak-anak itu bermain bola adalah banguna suatu instansi pemerintah, entah itu kelurahan atau kecamatan. aku mencoba membayangkan keceriaan dari sekumpulan anak-anak tersebut dengan menghadirkan keceriaan masa kecilku.

tak lama kemudian lamunanku itu dibuyarkan dengan kedatangan 3 anak perempuan yang sepantaran denganku masuk ke kelas. kalau dilihat dari gerak-gerik 3 orang ini, sepertinya mereka adalah sahabat karib. orang yang pertama mengenakan t-shirt warna biru dengan tas selempangan warna merah dan celana jeans. dari gaya bicaranya sepertinya dia sangat aktif dalam berbicara. rambutnya yang sebahu seakan memberikan gambarannya sebagai anak yang tomboy. orang yang kedua pun tak jauh beda dengan orang yang pertama. dengan gaya yang hampir sama, t-shirt, jeans dan tas selempangan. 2 orang pertama ini sepertinya asyik men\mbicarakan sesuatu yang menyenangkan, berbeda dengan 2 orang sebelumnya, orang yang ketiga ini tampak lebih pendiam. dia mengenakan t-shirt warna biru langit, tas selempangan dan celana jeans. yang tampak beda lagi adalah, orang yang ketiga ini tampak lebih feminim dan anggun dengan rambut panjang sepunggung, yang tergerai indah, bando hitam di rambutnya dan kacamata kotak dengan frame kecil dan tipis berwarna hitam melekat di wajahnya. lalu mereka mengambil temoat duduk yang berdekatan. si rambut panjang duduk dekat denganku, aku hanya berjarak 3 kursi ke ke kiri darinya. entah pancaran apa yang membuatku selalu ingin melihat si rambut panjang ini. wajahnya yang bulat dengan dagu yang agak tebal dan bibir tipisnya membuat hatiku penasaran untuk menatapnya lagi. ingin sekali aku mengetahui namanya dan berkenalan dengannya, tapi aku memang pemalu, aku hanya bisa curi-curi pandang untuk dapat menatapnya. yah namanya juga masih ABG.

tak lama kemudian masuk orang-orang yang akan menjadi teman-temanku di kelas tersebut. aku berkenalan dengan anak laki-laki disebelahku yang bernama Chandra dan temannya yang sepertinya berasal dari satu sekolah yang bernama Rachel. dari daftar hadir kelas, akhirnya aku dapat mengetahui namanya: Allisa Andananingtyas. cukup panjang memang, tapi itu adalah nama yang pas dan indah secantik dengan dirinya.

to be continued....

Thursday, 14 May 2015

Walk With Me, Daddy


Nasihat Ayah untuk Anaknya


Nak, bolehkah ayah bertanya padamu, mengapa kau selalu mengurung dirimu di dalam kamar dikala hari luang datang kepadamu? Mengapa kau lebih suka menghabiskan akhir pekanmu di depan layar berwarna memainkan tombol dari kotak ajaib itu? Mengapa kah kau lebih menyukai petualangan penuh teka-teki di dunia khayal daripada bertualang di dunia nyata yang penuh tantangan? Sekiranya ayah menyesal memberikanmu kenikmatan dari dunia fantasi dari kotak imajinasi itu. Tapi nak, bolehkan ayah memperbaiki kesalahan ayah tersebut dengan sebuah kisah yang mungkin bisa memberimu inspirasi. Sebuah kisah yang bisa menggugah selera bertualangmu di luar sana. Sebuah kisah yang mungkin bisa memicu hasrat rasa ingin tahumu tentang semua hal yang ada di alam luas sana. Matikan kotak fantasi itu dan izinkan ayah bercerita nak, karena jikalau tak mendengarkan akan menjadi penyesalan yang akan aku bawa sampai ajalku nanti.
Ketahuilah nak, bahwa ayah dahulu adalah seorang petualang, ya seorang petualang seperti di permainan yang biasa kau mainkan. Petualang yang bisa menjelajah berbagai bentang alam seperti tokoh protagonis dalam game Legend of Mana yang sering kau mainkan. Ayah mungkin tak segagah Cloud atau Squall atau Fayz yang menenteng pedang besar legendaris ciptaan dewa-dewa, tapi ayah hanya membawa sebuah ransel yang berisi kehidupan. Bukan..., bukan potion hp, potion mp atau remedy seperti di game-game itu, tapi yang ayah bawa di dalam ransel itu adalah seperangkat alat dan bahan dasar yang dapat menunjang kehidupan ayah selama tiga hari berpetualang bersama sahabat-sahabat ayah. Ya tiga hari nak, waktu yang sama yang kau habiskan untuk menamatkan game Final Fantasy VII. Tetapi tiga hari ini akan menjadi istimewa nak, karena kau akan merasakan sendiri petualangan yang sesungguhnya. Asal kau tahu nak, petualangan yang ayah lakukan bersama sahabat-sahabat ayah pun tak kalah hebat dengan petualangan yang dilalui oleh Cloud dan teman-temannya.
Nak, kau mungkin pernah mendaki gunung, menyusuri lembah, bergelayut memanjat tambang untuk sampai ke puncak bersama tokoh game idolamu. Tapi pernah kah kau membayangkan hal tersebut kau lakukan sendiri di dunia nyata nak? Ayah pernah merasakannya nak. Menyusur hutan lebat Gunung Salak, berjalan berkilo-kilometer dan berjam-jam untuk dapat mencapai tempat tujuan. Mungkin kau berpikir ayah bertemu hewan liar yang menyerang selama perjalanan seperti ketika tokoh game-mu berjalan menyusuri hutan di dunianya? Tidak nak, alam tidak sejahat itupada kita. Alam bahkan memberikan jalan kepada kita nak. Perjalanan ayah waktu itu diiringi oleh kicauan burung liar yang melantunkan nyanyian alam yang merdu. Nada-nada yang dikeluarkan dari kicauan burung bukan sembarang nada nak, itu adalah sabda alam yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta. Rangkaian partitur yang bersaut, diiringi oleh bunyi desah gesekan daun yang bergoyang tertiup angin dan belum lagi ditambah alunan perkusi gemercik air yang mengalir diantara bebatuan menambah syahdu petualangan ayah kala itu. Terbayang kah kau nak suasana itu? Damainya sabda alam yang menyejukkan hati itu memang tidak cukup hanya kau bayangkan saja. Sampai kau melihat atraksi harimau yang mengejar mangsanya atau induk elang jawa yang mengajari anaknya terbang, kau akan membeku terpana dengan momen itu. Momen yang tak akan bisa kau bayangkan pengalaman itu yang tidak mungkin kau temukan jika kau hanya duduk di depan kotak ajaib ini.
Nak, jikalau dalam game mendaki gunung dapat mudah dilakukan sambil berlari melompat kesana kesini, kau akan terkejut bagaimana rasanya mendaki gunung dengan membopong carrier yang beratnya hampir sama dengan sekarung beras penuh. Ayah tidak mengatakan susah dan berat untuk mendaki gunung dengan beban sedemikian berat, ayah lebih suka menyebutnya dengan kata mengasyikan. Kau tahu nak, jika di dalam game tokohmu dapat memasukan segala bahan petualangannya dalam satu tas penuh, ayah pun bisa melakukannya. Bahkan ayah pernah membopong tas di setiap sisi tubuh ayah; belakang, depan, kiri dan kanan. Kau bertanya apakah berat tas tersebut? Sekali lagi ayah katakan nak, pengalaman tersebut adalah pengalaman yang mengasyikan yang tak akan ayah lupakan nak. Ya ayah tidak merasakan berat beban tas-tas itu. Beban berat tersebut seakan hilang ketika kau bisa menyaksikan indahnya padang Oro-Oro Ombo yang ungu cerah itu. Beban berat tersebut seakan hilang sampai kau bisa melihat langsung indahnya samudera awan dan bentangan karpet hijau alam di atas puncak Prau. Mengasyikan bukan? Melihat mekarnya bunga Varbena Brasiliensis tumbuh mekar layaknya padang Lavender di pegunungan Alpen. Mengasyikan bukan? Melihat beningnya bentangan karpet hijau alami dari tanaman Daisy seperti di dunia Teletubbies. Itu lah nak ayah katakan sekali lagi, bahwa beban carrier itu tidak berat.
Nak, ada kah di dalam gamemu kau menyelam ke laut dan melihat betapa indahnya kumpulan makhluk-makhluk laut yang bermain diantara karang? Ayah yakin kau tidak pernah menemukannya di game mana pun. Kau tahu ikan Nemo dan Dory yang pernah kau tonton? Ayah pernah melihatnya secara langsung. Ikan mungil dengan warna oranye dan garis putih hitam di tubunya tampak lebih imut dan lucu dibandingkan dengan apa yang kau lihat di dalam film tersebut. Tidak hanya Nemo dan Dory yang pernah ayah temui ketika ayah menyelam ke laut. Bentangan lebar sayap ikan manta yang “terbang” di atas kepala ayah, nyanyian merdu ikan lumba-lumba yang sedang berkomunikasi dan suara menggelegar ikan paus yang terdengar seperti erangan seekor naga di game Breath of Fire IV pernah ayah temui ketika menyelam di bawah laut. Semua itu tidak akan kau temui di dalam permainan manapun yang kau mainkan di dalam kotak ajaib itu nak.
Nak, jika di dalam game Ragnarok, kau bahu membahu membagi peran dalam perang antar Guild. Ketahuilah nak, petualangan ayah bersama sahabat pun seperti guild-mu di Ragnarok. Bahkan petualangan kami tidak berbahaya seperti maha dahsyatnya pertempuran para Dewa dan Titan di dalam kisah Ragnarok yang kau mainkan. Jikalau di guild-mu ada jobknight yang menjadi tanker, maka di kelompok ayah pun juga ada. Dia kami sebut porter. Sama seperti knight, porter membawa peralatan yang berat untuk keperluan seluruh tim. Jikalau di guild-mu ada jobtype healer, maka ketahuilah bahwa kami pun juga memiliki tim medis yang juga bertugas mengobati anggota tim kami yang sakit atau kelelahan. Jikalau di dalam guild-mu ada jobtypehunter yang gesit membaca medan dan memastikan tidak ada anggota tim yang tertinggal, maka ketahuilah kami memiliki sweeper yang berperan sama seperti hunter. Apa? Kau menyebut di dalam guild-mu ada seorang astrologer. Ketauhilah nak, bahwa di dalam tim kami juga ada seorang astrologer. Ia yang memberikan rasa aman ketika kami berjalan di malam hari setelah membacakan arah mata angin dengan melihat taburan rasi bintang di malam hari. Ia juga yang mampu mengenali tanda-tanda alam dengan membaca pergerakan angin dan awan. Maka itu lah guild ayah ketika itu dalam bertualang. Kenangan dan kehangatan bersama ketika kami berkemah di malam hari waktu itu bertambah manis dengan seduhan coklat panas yang kami buat bersama. Coklat yang kami seduh itu memang sama seperti coklat yang sekarang kau seruput nak, tetapi balutan kehangatan canda dan dinginnya udara ketika itu menambah rasa manis di coklat itu.
Nak, jika di dalam game itu kau bisa menemukan pasangan hidup untuk karaktermu, ketahuilah bahwa berpetualangan di alam pun bisa mengantarkanmu bertemu dengan pasangan hidupmu nak. Ya, ayah menemukan cinta ayah disana. Ayah bertemu ibumu ketika ayah bertualang. Ayah ingat ketika itu, kami bertualang menyusur rimbunnya kaki Gunung Gede-Pangrango untuk mencapai air terjun Cibeureum. Ayah tidak tau riwayat petualangan ibumu pada waktu itu, yang ayah ketahui ibumu adalah pendiam shalihah yang menjadi santri di sebuah pondok tahfidz Qur’an. Ayah ingat, ibumu dulu adalah gadis yang pendiam bahkan untuk tertawa pun ia tidak mengeluarkan suara. Hanya cekikikan kecil yang ia tutupi dengan kedua tangannya. Petualangan demi petualangan ayah lalui bersama ibumu dan anggota tim kami. Benih-benih cinta mulai tumbuh diantara kami, nak. Hingga suatu ketika, ayah memberanikan diri mengajak ibumu mendaki puncak tertinggi di tanah Jawa. Dengan dibantu rekan-rekan ayah, ayah merencanakan untuk melamar ibumu di singgasana para dewa tersebut. Ayah mendatangi kakekmu untuk meminta restu untuk melancarkan misi ini tanpa sepengetahuan ibumu. Untungnya kakeknya sudah jatuh hati pada ayah dan merestui misi suci ayah itu. Dengan berbekal cincin platina yang ayah pesan secara khusus di sebuah pengrajin emas, ayah melamar ibumu di Puncak Mahameru. Kaget, terpaku bahagia dan tak percaya adalah ekspresi yang ayah lihat dari gerutan wajah ibumu ketika itu. Lama ia menjawab lamaran ayah, hingga sebuah dentuman kuat kawah Mahameru mengembalikannya dan mengatakan “iya” untuk lamaran ayah. Bentangan lautan awan, pemandangan puncak-puncak gunung yang terlihat dari puncak Mahameru dan riuh sorakan para pendaki yang bersama mendaki sampai puncak pada waktu itu seakan menjadi saksi pernyataan cinta ayah pada ibumu ketika itu. Haru dan bahagia ayah rasakan.Petualangan kali itu bukan sekedar petualangan nak. Petualangan ini menjadi awal petualangan cinta ayah hingga kau ada pada saat ini. Hingga hari suci itu tiba, ayah berjanji suci di depan kakekmu dan penghulu di pelaminan yang kami rancang bersama dengan konsep alam.
Nak, itulah sekelumit kisah petualangan ayah yang bisa ayah bagikan padamu. Petualangan ayah memang tidak sehebat Fayz yang harus terbang ke luar angkasa untuk menyelamatkan bumi, atau Cloud yang harus bertarung dengan weapon-weapon yang tersebar di seluruh lapisan bumi. Tapi satu yang bisa ayah katakan nak, petualangan ayah tadi tidak akan bisa kau bandingkan dengan petualangan manapun yang kau temukan di dalam game yang kau mainkan itu. Jika kau berminat nak, ayah siap membawamu merasakan petualangan tersebut. Kemasi pakaianmu dan perlengkapanmu sekarang. Ayah akan antar kau menikmati petualangan yang sesungguhnya.

 













Written by: Teguh_Maya