Wednesday, 5 August 2015

Am I Wrong

NICO & VINZ LYRICS

  "Am I Wrong"

disini akan mengulas dan menyampaikan arti dibalik lirik lagu " Am I Wrong" ini, cukup ga asing dengan lagu ini yang sering diputar di radio-radio Jakarta kan?

Oooooh
Oooooh
Am I wrong for thinking out the box from where I stay?
Am I wrong for saying that I choose another way?

Dari lirik pertama ini disampaikan "Apa yang salah dengan pikiranku diluar yang dipikirkan orang-orang dan memilih pilihan dari jalan normal yang dipilih rata-rata orang". tahu sendiri kan ya guys, kalau dilingkungan yang masih belum menghargai keputusan yang kita ambil dan beda dari orang lain, pasti banyak yang "under estimate" pilihan yang kita pilih, bukannya dapat semangat dan support tentang jalan yang kita pilih malah dijatuhin. Nah, hal ini yang seharusnya saling menghargai apa yang kita pilih dan turut senang, kalaupun di endingnya bakalan tidak sesuai ekspetasi kita, ya itu proses pendewasaan yang tiap person harus melewati titik itu.

I ain't tryna do what everybody else doing
Just cause everybody doing what they all do
If one thing I know, I'll fall but I'll grow
I'm walking down this road of mine, this road that I call home

Masuk ke dalam lirik ke dua. I ain't do (Aku tidak melakukan yang orang lain lakukan), kalau ada hal lain yang di ketahui, mungkin akan jatuh tapi jatuh untuk bangkit sebagai pijakan/ lompatan ke yang lebih tinggi dan I'll grow up dan menjadi wise dalam menghadapi permasalahan hidup. dan berjalan sesuai yang saya pikirkan dan saya menyebutnya "home". Berjalan ke arah sesuai dengan pikiran dan pilihan dan itulah rumahku.

So am I wrong
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong
For trying to reach the things that I can't see?
So Am I Wrong
(Jadi, apakah salah?) salah karena menjalani apa yang diyakini dan menurutnya itu menuju rumah dengan berjalan apa yang dipikirkan. Apakah salah karena berpikir bahwa kita bisa meraih sesuatu yang nyata? Apakah salah karena mencoba untuk menggapai yang mungkin tidak terlihat? Apakah harus mengikuti apa yang oran lain inginkan dan terlihat? 

But that's just how I feel (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)

Am I tripping for having a vision?
My prediction: I'm a be on top of the world

Apakah karena pilihan atau jalan yang telah dipilih, lantas harus meraih hal yang sama orang lain dapatkan? yah, tapi itu hanya perasaan saja. Apakah mungkin terjebak dan memiliki capaian yang diinginkan? padahal perkiraan bahwa aku akan menjadi "Top Of The World"

Walk to walk and don't look back, always do what you decide
Don't let them control your life, that's just how I feel
Fight for yours and don't let go, don't let them compare you, no
Don't worry, you're not alone, that's just how we feel

ke lirik selanjutnya bahwa teruslah berjalan dan jangan berpaling ke belakang, dan selalu yakin dengan pilihan yang telah dibuat. jangan sampai itu mempengaruhi dan mengontrol kehidupanmu, karena itu cuma perasaan, yakinlah.


Am I wrong (am I wrong)
For thinking that we could be something for real?
(Oh yeah yeah yeah oh)
Now am I wrong (am I wrong)
For trying to reach the things that I can't see?
(Oh yeah yeah yeah yeah)


But that's just how I feel,
That's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see

If you tell me I'm wrong, wrong
I don't wanna be right, right
If you tell me I'm wrong, wrong
I don't wanna be right
[2x]

Am I wrong
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong
For trying to reach the things that I can't see?

But that's just how I feel, (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel (ooh, ooh, ooh, ooh ooh)
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see

So am I wrong (am I wrong)
For thinking that we could be something for real?
(Oh yeah yeah yeah oh)
Now am I wrong (am I wrong)
For trying to reach the things that I can't see?
(Oh yeah yeah yeah yeah)

But that's just how I feel,
That's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see 
Kesimpulannya, apapun pilihan kita tetap yakin dan percaya bahwa pilihan kita tersebut adalah yang terbaik, hasil tidak menentukan siapa kita, tapi menentukan seberapa dewasa terhadap masalah diluar sana and I'm will be Top of The World!

Mein Traumhaus In der Natur

Schriftsteller : Maya Ayu Wulandari

Ich möchte ein Haus mit Garten am Dorf haben. Es muss auch ein Moschee, einen sportßlaz und ein Schwimmbad haben. Das Haus ist 400 Quadratmeter groß. Das Haus hat zwei stöcke. Im Erdgeschoss gibt es einen Küche, eine sauna, und zwei Zimmer. Im ersteh stöck gibt es ein Wohnzimmer, ein Schlafzimmer mit zwei Balkons und zwei Bäder. Im jedeh Wohnzimmer gibt es einen Fernseheappart, drei Sessel und ein bequemes Sofa. Ich möchte viele Katzen in unseren Haus haben. Im Haus gibt es viele Fernster. Es gibt eine Groß Garage Tür in dem meine Ferrari gibt. Das Haus muss auch viele Balkone haben, so kann ich mich sonnen. Ich weiß, das es sehr schwer dieses Haus zu realisieren ist, aber man kahn träumen.

5 tahun mengenang kepergian dia (end), August 30, 2009



Papandayan_

secara kasar, kedekatanku bersama Lisa sudah terhitung selama 4 bulan sejak kejadian di akhir bulan Januari 2004. namun secara bersih, kedekatanku itu sebenarnya belum menginjak usia 1 hari. kedekatanku baru berumur 10 jam 40 menit. banyak yang mengira kami sudah berpacaran atau semacamnya. tetapi sebenarnya diantara kami, dan terutama aku, belum berpikir ke arah itu.
sejak kejadian kamis itu, Lisa tampak lebih pucat dari biasanya. ritual jalan bersama yang ku lakukan dengan dirinya pun sekarang tak lagi rutin. Lisa lebih banyak dijemput oleh orang tuanya. ku hanya berpikir kalau itu baik untuk kesehatan Lisa, itu tak masalah bagiku. yah..., apa boleh buat. perjalanan yang menyenangkan itu harus berkurang. aku merasakan kesepian selama perjalanan ku pulang. perjalanan dari LIA sampai Stasiun Kalibata yang berjarak 1km itu, kini harus ku tempuh sendiri. aku merasa kehilangan selama perjalanan tersebut. tak hanya aku, bapak penjual es kelapa yang biasa aku beli es kelapa kepadanyapun merasa kehilangan.
"temannya yang perempuan kemana dik??" tanyanya
"lagi sakit Pak, sekarang dia sering dijemput"
"oh..., kalau ketemu salam dari saya ya dik, saya doakan supaya cepat sembuh"
"oh iya Pak, Insya Allah nanti saya sampaikan"
aku hanya bisa menghadirkan memori indah tentang perjalanan itu untuk menghiburku selama perjalanan. tak terkadang, aku pun tersenyum sendiri ketika mengingat memori itu. musim kemarau di bulan Mei itu seakan menggambarkan kekeringan hatiku. suasana perjalanan pun sepertinya menggambarkan suasana hatiku. deretan pohon bunga akasia mengering dan tak menampakkan bunganya yang berwarna pink itu. bunga-bunga di kiosk penjual bunga pun tampak lesu dan jarang yang bermekaran. hanya serakan biji petai cina yang berwarna merah delima itu yang mewarnai perjalananku.
tak terasa sebentar lagi ujian nasional akan segera bergulir. aku mengintensifkan waktu belajarku, begitu pun Lisa. ia sekarang tampak tekun membaca buku pelajaran sekolah di waktu sebelum les dimulai. tak jarang juga, kami pun sering berdiskusi, sekadar bertukar pikiran untuk menambah ilmu serta test kecil-kecilan untuk mengukur kemampuan kami. kami pun memasang target untuk pencapaian hasil ujian kami. kami sama-sama bertekad untuk dapat diterima di SMA negeri favourit yang terletak di kawasan Bukit Duri.
hal tak wajar terjadi kepadaku ketika ujian nasional digelar. aku jatuh sakit dan terdiagnosa sebagai typhus. aku pun harus mengerjakan ujian nasionalku di rumah sakit. tapi penyakitku ini tak menyurutkan semangatku. soal demi soal ku kerjakan dengan segenap kemampuan dan keyakinan diri.
ketika kembali bertemu Lisa, kami mendiskusikan tentang ujian nasional yang telah kami tempuh itu. namun kegiatan belajar bersama pun masih kami lakukan karena setelah itu ada ujian akhir sekolah. biologi menjadi pusat perhatianku. aku memang memiliki kekurangan dalam bidang ini. namun Lisa membantuku. menurut Nita yang menjadi teman sekelasnya, Lisa adalah murid kesayangan guru biologi di sekolahnya. ia sangat pandai dalam bidang ini. hubungan timbal balik dalam pelajaran sekolah terjadi diantara kami. aku pun membantu Lisa, yang menurutnya sangat kurang, dalam pelajaran fisika dan sejarah.
ketika ujian akhir sekolah berlangsung, aku tak lagi jatuh sakit, sehingga aku benar-benar bisa mengerjakan ujian itu dengan kemampuan terbaik maksimalku. setelah ujian nasional dan ujian akhir sekolah, final test dari LIA pun segera bergulir. sama seperti ujian-ujian yang lain, aku pun belajar bersama Lisa. dan ketika hari-H tiba, aku benar-benar mengerjakan dengan sungguh-sungguh. ketika ujian berlangsung aku duduk di tempat favouritku, di pojok dalam dekat jendela. sama seperti ketika kali aku masuk dan pertama kali ku bertemu Lisa, aku sering menatap ke arah jendela di sela-sela ujian. sekadar untuk memanggil kembali ingatanku teori pelajaran dalam ujian tersebut ataupun menyegarkan otak. ku lihat Lisa, yang duduk di depanku, tampak terlihat tekun mengerjakan soal-soal tersebut. di hari terakhir, atau tepatnya setelah oral test, aku dan Lisa memutuskan untuk menikmati sore itu dengan kembali berjalan kaki menuju Stasiun Kalibata. aku benar-benar menikmati sore itu. setelah hampir sebulan aku jalan sendiri, kini teman yang selalu menemani perjalananku kembali. ini adalah perjalanan terakhir kami di bulan Juni.
pengumuman hasil ujian nasional telah dikirim ke rumahku. Lisa meng-sms ku. ia menanyakan hasil ujianku. namun saat itu aku sedang tidak berada di rumah. aku sedang melakukan perpisahan SMP di Yogyakarta. ia juga mengabarkan hasil ujiannya. Alhamdulillah, aku dan dia bersyukur atas hasil ujiannya sesuai dengan harapannya dan dia optimis bisa masuk SMA favoritnya dan tak lupa ia mendoakan untuk hasil ujianku agar sama bagus dengannya. sesampainya kembali dari rangkaian acara perpisahan di Yogyakarta, aku pun langsung melihat hasil ujianku. ternyata nilaiku tak sesuai harapanku, tetapi aku puas dengan pencapaianku itu. segera aku kabari Lisa. dia menyemangati ku dengan kata-katanya yang halus. beberapa hari kemudian awal tahun ajaran baru sekolah dan awal term baru LIA dimulai. Lisa diterima di sekolah favourit pilihannya. aku sendiri diterima di sekolah favorit pilihanku di dekat rumahku. aku pun senang karena dapat bertemu Lisa kembali. sepertinya Lisa sudah kembali sehat dan bisa kembali menemani perjalanan pulangku. namun, ritual itu harus berakhir di bulan agustus. jadwal sekolahku yang bentrok dengan jadwal LIA memaksaku untuk pindah hari. ku sadari, ketika aku pindah hari, kecil kemungkinanku untuk bertemu Lisa kembali. aku pun berpamitan kepada Lisa dengan ikut mengantarnya sampai rumahnya. ketika berpamitan, aku merasakan kesedihan yang belum pernah ku alami sebelumnya. ia pun tampak sedih dengan kalimat pamitku. rasa sedih dan haru ketika perpisahan SMP di Yogyakarta dikalahkan dengan rasa sedih berpisah dengan Lisa. namun kami saling menyemangati. kami berjanji untuk menjaga pertemanan ini, setidaknya melalui sms. dalam hatiku ku berdoa kepada Yang Maha Bijaksana agar dapat segera mempertemukan aku kembali dengannya.
seminggu pertama setelah kami berpisah, kami masih berhubungan lewat sms sekadar menanyakan kabar, bercanda, berdiskusi tentang pelajaran sekolah yang baru kami terima ataupun mengucapkan selamat malam. hal ini membuat hatiku merasa dekat dengan Lisa, walaupun kami jauh. namun, di minggu kedua bulan agustus Lisa sudah jarang membalas sms-ku. memasuki minggu ketiga, Lisa sudah tidak pernah membalas sms-ku. aku tak pernah berburuk sangka kepadanya. aku hanya berpikir Lisa sibuk dengan tugas-tugas dari sekolah. namun tetap saja hatiku tidak tenang dan selalu bertanya ada apa dengan Lisa. aku sempat berpikir untuk mendatangi rumahnya untuk mengetahui kabarnya. namun, aku urungkan niatku itu karena takut mengganggunya.
hari Jumat, 20 Agustus 2004, merupakan hari yang teraneh yang pernah kurasakan. diawali ketika sholat tahajud, aku beberapa kali lupa bunyi ayat yang sedang ku lantunkan dalam sholatku itu. tak sampai disitu, ketika aku membaca Al-Quran, aku menjadi terbata-bata. beberapa tajwid salah ku lantunkan. padahal sebelumnya ini belum pernah terjadi. entah apa yang telah terjadi, hatiku benar-benar tidak tenang ketika itu. keanehan hari itu berlanjut di sekolah. aku selalu melakukan kesalahan ketika mencatat, sehingga banyak sekali coretan dalam catatanku. dalam pelajaran fisika, yang kala itu sedang praktek pengukuran, aku tidak berkonsentrasi penuh. tanpa ku sadari aku melukai jariku sendiri dengan jangka sorong yang sedang ku pegang itu.
---
(sementara itu masih di hari yang sama di tempat lain...)
ruang operasi di sebuah rumah sakit dengan peralatan lengkap di Jakarta sudah dibuka pada pukul 10.00. ada agenda operasi pengangkatan kanker otak pada hari itu. pasien hari itu adalah seorang anak SMA. para ahli bedah yang telah dijadwalkan untuk menangani pasien tersebut sudah bersiap di ruang operasi. operasi kanker otak merupakan operasi dengan kesulitan tinggi. para ahli bedah saraf harus benar-benar berkonsentrasi penuh karena kompleksnya sistem utama jaringan tubuh manusia itu. operasi kala itu berlangsung sesuai prosedur. para ahli bedah memberikan bius dengan dosis yang disesuaikan untuk lamanya operasi tersebut. lalu mereka membuka batok kepala sang pasien dengan hati-hati. setelah batok kepala terbuka, mereka mereka mulai melakukan pengangkatan sel-sel otak yang telah terjangkiti kanker tersebut dengan hati-hati. setelah semua kanker dalam sel-sel otak tersebut diangkat, dan para ahli bedah memasukan sel-sel otak yang baru ke dalam kepala sang pasien. setelah itu, mereka kembali menutup batok kepala yang tadi dibuka. operasi ini berjalan dengan sukses. namun sang pasien masih belum sadarkan diri.
---
senin pagi, sekitar jam 10.00, aku menerima sms dari Ray. ia ingin menemuiku untuk menyampaikan sesuatu yang dititipkan dari Lisa. senin sore setelah sekolah, aku langsung pergi menuju LIA. setelah sampai, aku menunggu di lobi utama LIA Pengadegan dengan sabar. tak beberapa lama kemudian bel berbunyi, tanda term pukul 15.00 - 17.00 hari senin selesai. aku pun langsung melihat Ray di tengah kerumunan murid-murid LIA di hari itu. Ray memberikanku sebuah amplop kecil berwarna pink dengan tulisan "to: Teguh" di sisi depannya. aku mengenali tulisan tangan itu sebagai tulisan Lisa. entah mungkin sedang terburu-buru, Ray berlalu meninggalkanku
"kalau bisa, bacanya di rumah aja..." sambil ia pergi. aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca ketika ia meninggalkanku. tapi aku tak tahu apa maksudnya. sesuai dengan sarannya, aku pun tidak langsung membaca surat dari Lisa tersebut di LIA. namun dalam perjalanan pulang, hatiku benar-benar penasaran akan isi surat itu. rasa penasaranku itu bisa ku redam sampai aku sampai di rumah.
malam harinya sebelum sholat tahajud, aku mengeluarkan surat Lisa dari dalam tasku. tulisan tangannya membuat kerinduanku kepada Lisa menyeruak. ku keluarkan kertas surat dari dalam amplopnya. kertas itu adalah kertas file dengan warna pink dan gambar Hello Kitty di sisi pojok kanan bawahnya. ku baca perlahan isi surat yang di tulis tangan itu:
---
Assalamu'alaikum Wr Wb
Apa kabar Guh? aku harap kamu baik-baik saja dan tetap ceria seperti biasanya. sebelumnya aku minta maaf, karena aku jarang balas sms kamu. jujur Guh, pas aku baca sms kamu, aku pun kangen sama kamu. aku juga rindu canda kamu, tawa kamu, es kelapa yang selalu kita beli ketika jalan pulang dari LIA. aku rindu semuanya tentang kamu Guh. namun, Allah memang Maha Penentu Kebijakan. kita tidak dapat melakukan itu bersama lagi.
aku juga ingin menyampikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya sama kamu. kamu cowok pertama dan satu-satunya yang bisa buat aku merasa spesial. ketika bersama kamu, aku merasakan sesuatu yang benar-benar membuat hati aku senang dan berbunga-bunga. aku sadar itu adalah cinta. aku gak tahu kamu merasakan hal yang sama atau gak. Ray dan Nita sering iri melihat kedekatan kita itu. mereka merasa cemburu dengan kamu Guh. mereka juga sering bertanya apakah aku sudah ditembak kamu atau belum. ketika aku menjawab pertanyaan mereka, mereka merasa kecewa sama kamu. lucu ya Guh, kenapa jadi mereka yang kecewa. aku sendiri pun tidak terlalu memperdulikan status tersebut. bagiku, dekat dengan kamu sudah merupakan hal yang sangat istimewa bagiku. hati aku pun gak pernah merasakan kesepian ketika dekat denganmu.
Guh, aku juga mau minta maaf. aku gak pernah cerita ke kamu tentang penyakit yang aku derita. mungkin kamu masih ingat, ketika aku hampir jatuh karena pusing. itu bukan pusing biasa Guh. itu adalah efek penyakit kanker otak yang sedang aku derita. aku tidak mau cerita ke kamu, takut mengganggu pikiranmu.
Guh, ketika kamu membaca surat ini. aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. aku sudah kembali kepada Allah SWT. terima kasih kamu sudah memberikan hari-hari yang menyenangkan sebelum akhir hidupku. terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. terima kasih sudah mau menjagaku. kamu cowok yang benar-benar spesial dalam hidup aku. kamu cowok satu-satunya dan yang pertama yang memberikan perhatian lebih kepadaku. ketika aku sudah berada di alam sana. aku akan menceritakan semua kebaikan kamu kepada orang-orang disana. aku akan menceritakan semua kenangan tentang kamu kepada teman-teman baru disana.
jangan bersedih Guh. aku percaya kamu kuat. aku percaya kamu dapat menerima kepergianku ini dengan kesabaran dan keluasan hati. aku cuma berharap kamu bisa melanjutkan sisa hidupmu dengan ceria dan semangat seperti biasanya. kamu adalah Naruto bagi aku. kamu selalu enerjik, perhatian, penyayang dan gak pantang menyerah.
selamat tinggal Guh. aku harap kita bisa dipertemukan kembali di tempat terbaik di sana. selamat tinggal cinta pertamaku.
Lisa
---
aku tak sanggup menahan air mataku yang sudah mulai keluar sejak aku membaca paragraf kedua. tak ada kata-kata yang sanggup aku lontarkan setelah membaca surat itu. hatiku seperti bunga dendelion yang mati dikala sedang mekar dan tertiup angin pelan dan halus. tahajudku pun tidak khusyuk malam itu. air mata berderai deras di pipiku. aku hanya melaksanakan 2 rakaat saja. setelah itu aku berdoa. dalam doaku aku menangis sejadi-jadinya. tidak hanya menangis karena meratapi dosa-dosaku, tapi aku juga menangis karena kepergian Lisa. aku benar-benar tak sanggup menahan kesedihanku ini. tapi aku berjanji pada diriku sendiri dan tentunya kepada Lisa. seperti yang ia inginkan, aku harus kuat. aku harus bisa menjalani hidupku ini dengan ceria dan semangat. aku harus bisa menjadi Naruto seperti yang Lisa inginkan.
kini amplop dan surat dari Lisa itu tersimpan rapi di laci meja belajarku. kalung huruf L yang berbahan stainless steel dan sudah dilapisi cat anti karat berwarna platina juga ku simpan rapi di dalam laci tersebut. kalung yang ku beli di Yogya itu tadinya akan ku berikan kepada Lisa ketika aku akan mengungkapkan isi hatiku. tapi biarlah, itu akan menjadi kenangan yang terindah dalam hidupku yang akan ku simpan juga di lubuk hatiku yang terdalam. aku juga membiarkan ruang hampa yang sudah ku persiapkan untuk Lisa dalam hatiku terkunci rapat bersama kenangan-kenangan indahnya.
Selamat tinggal Lisa. selamat tinggal cinta pertamaku...
dedicated to:
Allisa Andananingtyas
21 April 1990 - 22 Agustus 2004

(Bagian V) 5 Tahun mengenang kepergian dia, August 30, 2009




seminggu kemudian, seperti yang sudah kami janjikan dan Lisa menyanggupinya, akhirnya kami jadi pergi menonton. oral test di LIA memang hanya sebentar saja. sehingga kami masih bisa menonton untuk jadwal penayangan pukul 15.55. setelah oral test, aku dan Lisa pergi ke Musholah dulu untuk mengerjakan sholat ashar. seperti biasa, aku dan Lisa berjalan kaki dari LIA sampai Kalibata Mall. sedangkan Ray dan Nita naik angkot, mereka akan membelikan dulu tiketnya untuk kami nonton.
masih gelak tawa dan canda mengiringi perjalanan kami. matahari yang kala itu sudah menampakan warna oranyenya malu-malu menatap kami dari kumpulan nimbus yang tebal. tak lupa kesegaran es kelapa muda dengan gula putih hampir selalu menemani kami disaat jalan bersama. namun, dalam perjalan kali ini ada kejadian yang tak terduga yang terjadi pada Lisa. sekitar 25 meter setelah kios es kelapa dan 30meter sebelum gerbang kompleks perumahan anggota DPR Kalibata, Lisa berjalan terhuyung-huyung. beberapa saat kemudian keseimbangannya pun hilang. untungnya aku sigap disisi kanannya. tubuhnya yang berbobot sekitar 28kg sudah miring 20derajat ke kanan, ku tahan sekuat badan dan tenagaku. es kelapa yang ada di tangan kirinya pun jatuh dan berceceran di atas trotoar. untungnya Lisa masih menguasai kesadarannya. ia berjalan tertatih-tatih sambil ku pegangi pinggangnya mencari tempat kering yang tidak kena basahan dari es kelapa yang jatuh tadi untuk duduk. ia duduk sambil meringis, memijat kepalanya dengan tangan kirinya.
"Kenapa Lis??" tanyaku khawatir
"Gak tahu Guh, tiba-tiba kepalaku pusing banget"
"belum makan emangnya?? aku beliin obat ya di situ terus gak usah nonton deh sekarang, biar kamu pulang dan istirahat"
"gak usah Guh, gak apa-apa, bentar lagi juga hilang pusingnya"
"tapi kelihatannya kamu pucat banget Lis"
"gak apa-apa Guh, makasih, yukk, udah agak mendingan nih" katanya sembari bangkit. namun keseimbangan tubuhnya belum sepenuhnya ia dapatkan. ia hampir jatuh lagi, untungnya aku sigap dan kembali menahan tubuhnya itu. ku suruh dia duduk kembali.
"tuh kan, kamu tuh emang sakit, yaudah aku beli obat ya?? dan gak usah nonton"
"beliin obat aja Guh, kita tetap jadi nonton, gak enak sama Ray dan Nita, tolong belikan Bodrex aja."
"lho harusnya mereka yang gak enak sama ka...," sebelum selesai Lisa memotong kalimatku
"aku gak mau mengecewakan mereka Guh,"
"hmmm..., ya sudahlah, tunggu sebentar ya" kata ku. setelah itu aku berlari ke warung terdekat untuk membeli obat dan air mineral dan segera berlari kembali ke Lisa. dia masih duduk memegangi kepalanya.
"ini Lis obat dan airnya"
"makasih Guh" segera ia minum obat yang aku berikan. beberapa saat kemudian, ia mencoba bangkit kembali. keseimbangan tubuhnya yang belum pulih benar membuatku bersiap lagi dengan memegangi tangannya yang halus itu, jikalau ia terjatuh lagi. tetapi kali ini dengan cepat ia mampu menahan berat tubuhnya sendiri. setelah ia mendapatkan kembali keseimbangannya, kami melanjutkan perjalanan. dengan langkah kecil kami melanjutkan perjalanannya. langkah anggun Lisa yang dulu kini tampak tidak beraturan. aku semakin khawatir dengan kondisinya saat itu.
beberapa menit kemudian kami sampai di bioskop Kalibata Mall. kami sampai pas dengan mulai dibukanya pintu bioskop yang memutar Ada Apa Dengan Cinta. ku lihat Ray dan Nita sudah menunggu dengan cemas di depan pintu bioskop 2. segera kami mendekati mereka.
"ada apa Guh, kok lama banget??" tanya Ray
"ini Lisa, tadi dia sakit, kepalanya pusing banget katanya. tadinya mau gue batalin biar dia pulang dan istirahat. tapi dia tolak"
"loe beneran gak apa-apa Lis??" sekarang Nita bertanya ke Lisa
"gak, gak apa-apa kok Nit, yukk masuk aja, jangan terlalu mengkhawatirkan aku" jawab Lisa
"yaudah deh, yuk masuk, nih tiket kalian." kata Nita sembari meberikan 2 buah tiket bioskop kepadaku.
133 menit lama film AADC yang kami tonton. beragam reaksi ku lihat dari para penonton yang menonton bersama kami. aku melihat ke arah Lisa, aku tak tahu apakah ia menonton pertunjukkan bioskopnya pada saat itu. karena ketika ku lihat dia sedang memejamkan matanya. kalau seandainya ia tertidur, itu lebih baik menurutku. setelah film usai ku bangunkan Lisa dengan mengguncangkan pelan badannya.
"Lis, bangun, udah selesai filmnya"
"oh..., maaf, aku ketiduran, pengaruh obat kayaknya"
"yah, kok loe tidur Lis, padahal kan filmnya bagus" kata Ray
"maaf, tapi aku ngantuk banget, tapi aku tadi juga sempat nonton banyak kok"
"oke, yukk keluar" kata Ray lagi. kami menunggu sebentar sampai antrian penonton yang lumayan banyak itu habis, lalu kami keluar. setelah di luar, Nita mengajak kami untuk makan dulu. waktu pada saat itu menunjukan pukul 17.15, aku pun bertanya kepada Lisa tentang ajakan Nita tersebut.
"Gimana Lis, kamu mau makan dulu??" tanyaku
"hmmm..., iya deh aku makan dulu" jawab Lisa.
"oke, mau makan dimana kita??" tanyaku pada Nita
"KFC aja kali ya, lumayan murah soalnya daripada McD" jawab Nita
"yaudah, yukk..." ajak Ray.
ketika makan, ku lihat Lisa tampak murung dan tidak bersemangat memakan paket Rp 10.000 KFC.
"Kenapa Lis, dihabiskan donk makanannya" kata ku
"Duileh Teguh, perhatian banget ma Lisa, hahahaha..."
"bukannya perhatian gue, tapi khawatir aja, coz tadi dia udah mau pingsan"
"Hah...!? iya Lis??" kata Nita Kaget. Lisa hanya menjawabnya dengan senyum. selesai makan aku mengajak mereka untuk sholat maghrib dulu sebelum pulang. setelah sholat maghrib, kali ini secara sadar aku memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa akan kesehatan Lisa. baru kali ini aku memanjatkan doa secara khusus dan spesifik kepada seorang teman, terlebih teman wanita. sangat jarang aku memanjatkan doa dengan menyebutkan nama seoang teman dalam doa-doaku. aku terbiasa berdoa untuk teman-temanku secara umum. sepertinya memang ada sesuatu yang membuatku begitu perhatian kepada Lisa. perhatian lebih yang ku berikan secara fisik dan imateri memang sangat besar kepada Lisa. mungkin ini lah yang banyak orang bilang tentang cinta.
selesai sholat kami pun pulang. aku memutuskan untuk mengantar Lisa pulang, setidaknya sampai depan rumahnya. aku pun menelpon orangtuaku dulu untuk meminta izin untuk pulang malam. atas berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk naik angkot saja ketimbang naik kereta. kami naik angkot 02A yang berwarna biru muda jurusan Kp. Melayu via Tebet. angkotnya ketika itu masih kosong. Ray, Nita, Lisa dan aku masuk bergantian. kami mengambil tempat duduk di bagian dalam. Ray dan Nita duduk di kursi 6. aku dan Lisa berdampingan duduk di kursi 4. LIsa duduk dekat jendela belakang. selama pejalanan di angkot aku, Ray dan Nita banyak mengobrol. sedangkan Lisa sepertinya tertidur. tiba-tiba Lisa menyandarkan kepalanya di pundakku. Ray dan Nita hanya bisa tersenyum melihat kejadian itu. aku pun tak dapat dan tak mungkin mengelak. jadi selama perjalanan sampai depan komplek perumahan Tebet, Lisa tertidur diatas pundakku. ku singkirkan poni yang menutupi keningnya dengan telapak tangan kiriku untuk merasakan suhu tubuhna saat itu. badannya hangat, sepertinya dia memang benar-benar sakit.
sekitar 45menit, kami lalui perjalanan dari Kalibata sampai komplek perumahan Tebet. dengan aba-aba dari Ray untuk membangunkan Lisa karena sudah sampai, ku tepuk pundak kanan Lisa pelan untuk membangunkannya.
"Lis bangun, udah sampai depan komplek rumah kamu nih" kataku
"Oh..., eh maaf Guh, aku tidur di pundak kamu"
"biasa aja kali Lis, yuk turun" ku keluarkan uang sepuluh ribuan untuk membayar angkot untuk 4 orang. kami berjalan menyusuri komplek perumahan itu. sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah dengan pagar hitam dan cat tembok putih. rumah ini adalah rumah Lisa. tidak berbeda jauh dengan rumah-rumah di komplek itu bentuknya. rumahnya terbilang luas. ku perkirakan luasnya mencapai 500 - 600 meter2. rumahnya memiliki halaman depan yang luas. kira-kira halaman tersebut memiliki luas sekitar 27m kuadrat. rumput golf menyelimuti hampir 3/4 halaman depan rumahnya. ada jalan setapak yang berisikan ratusan batu koral putih yang bersih. 3 pohon Hyuphorbe lagenicaulis (Palem Botol) berjejer rapi di balik pagar. dan 3 pohon kembang sepatu yang telah dipangkas menyerupai tumbuhan jamur tertata rapi di taman tersebut. disisi kanan taman tersebut ada sebuah air terjun buatan bertingkat tiga. suara percikkan airnya mampu membuat tenang pikiran orang-orang yang mendengarnya. namun yang menarik perhatianku bukanlah suara percikkan air tersebut. melainkan tatanan rapi berbagai jenis bunga yang tertata begitu rapih di sekeliling air terjun itu. 5 tanaman kamboja jepang dengan mahkota bungannya yang berwarna pink itu mekar penuh dan menunjukan pangkalnya yang berwarna putih berdiri rapi di sisi kanan air terjun. di sebelh kamboja jepang, ada kumpulan Rosa alba (mawar putih) yang juga sedang memekarkan bunganya berjejer rapi mengelilingi air terjun sampai disisi kirinya. lalu terakhir ada tanaman melati yang pula memekarkan bunganya. semerbak wangi bunga tersebut menyeruak dihembus angin-angin kecil yang dihasilkan oleh percikkan air terjun. Ray menggeser pagar dorong rumah Lisa ke kanan dan kami masuk. Lisa mempersilahkan kami duduk di kursi yang sudah ada di teras rumahnya. kami duduk yang berasal dari anyaman bambu yang sepertinya berasal dari daerah pengrajin bambu di Kulonprogo. ku perhatikan lagi taman di rumahnya itu. tak hanya di sekirat air terjun buatan yang memiliki bunga. tepat di depan kami, tepatnya di depan teras juga berbjejer tanaman Tunakarmen. namun, tanaman ini belum berbunga. tanaman ini baru berbunga ketikan musimkering tiba. 4 pot gantung berisi tanaman wijaya kusuma atau bunga sedap malam yang siap memekarkan kuncup bunganya. konon katanya orang yang menanam tanaman ini adalah orang yang paling sabar dan penuh kasih sayang diantara yang lain.
tidak beberapa lama kemudian Lisa keluar lagi membawakan sebotol sirup yang berisi air putih dingin dan 3 buah gelas. ia pu duduk bersama kami di kursi yang terbuat dari anyaman bambu tersebut. lalu seorang wanita keluar. Lisa memperkenalkan wanita tersebut sebagai Ibunya. lalu suasana akrab pun terbangun diantara kami. dalam pembicaraan kami malam itu, Ibunya Lisa banyak bercerita tentang pribadi Lisa kepadaku. diantara orang-orang yang berada di teras seluas 9m2 itu, aku adalah orang baru. dan tak ku sangka, taman yang indah dengan berbagai macam bunga yang ada disana, semuanya ditanam dan dirawat oleh Lisa sendiri. dalam hatiku, ku puji dan ku kagumi ketelatenan dan kesabaran Lisa dalam merawat bunga-bunga tersebut. hal ini semakin membuatku jatuh hati kepada Lisa. aku tak bisa memakai kata-kata lain selain kata sempurna untuknya. dia cantik, dia pintar, dia penyayang, dia penyabar.
to be continued...

Tuesday, 4 August 2015

( Bagian IV) 5 Tahun Mengenang Kepergian Dia, August 30, 2009

 


Kamis lusanya, kami jalan bersama lagi. kali ini dia yang menraktirku es kelapa. selama perjalanan itu kami membicarakan banyak hal. aku sendiri sampai heran, karena ada saja topik yang kami bicarakan. hatiku benar-benar berbunga-bunga pada saat itu. semua keterpesonaanku terhadap Lisa benar-benar terbingkai rapi dalam hatiku. suasana sore seakan memberi warna tambahan dalam bingkai tersebut. matahari yang masih terlihat dan memancarkan warna oranyenya menyinari rambut Lisa yang kali ini ia jepit ke belakang helaian rambut di sisi kepalanya membuatnya tampak lebih berkilau. emperan kios tanaman hias yang menjual berbagai macam bunga seperti Resaceae, Ixora javanica, Dendrobium orchidaceae dan lain-lain di bantaran rel kereta menambah keasrian suasana hatiku. rasanya aku ingin sekali membeli satu tanaman Impatiens balsamia yang bunga berwarna ungunya itu sedang mekar dan ku berikannya kepada Lisa. barisan Leucaena leucocephala yang berjajaran sepanjang jalan yang rindang menambah damai hati ini. biji petainya yang berwarna merah terang itu berserakan jatuh dari batangnya yang bergoyang dihembus desiran angin sepoi-sepoi. ditambah lagi dengan deretan Acacia auriculiformis atau pohon bunga kertas yang tumbuh dari balik pagar setinggi 3 meter kompleks perumahan anggota DPR Kalibata itu sedang memekarkan bunga-bunganya yang berwarna merah jambu seakan melambangkan warna hatiku pada saat itu. gelak tawa mewarnai perjalanan kami saat itu. pembicaraan mengenai hobi, hewan kesayangan sampai tebak-tebakan lucu membuat diriku seakan tak ingin cepat-cepat menyelesaikan perjalanan singkat ini. di akhir perjalanan kali ini aku mengantarkannya masuk ke dalam stasiun. sebelum ia naik kereta, aku sempat meminta no hpnya. sampai sekarang aku masih dapat mengingat no hp-nya. bahkan aku masih menyimpannya di phonebook di hp-ku.
dua bulan sudah kedekatanku dengan Lisa. segala macam ledekkan dan candaan dari teman-teman dan guru LIA kelas FSC 4 ruang 314 sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa bagiku dan Lisa. tak hanya guru tetapku, Mrs. Dosche, tetapi juga guru pengganti yang biasa menggantikan Mrs. Dosche, Mr. Reza ikut-ikutan meledekku. aku dan Lisa bahkan sudah menjadi pasangan tetap ketika ada tugas dalam buku modul yang bercirikan "role play". kedekatanku dengan Lisa membuat sesuatu yang berbeda dan aneh dalam diriku. entah apa yang berbeda dengan Lisa. setiap dekat dengannya aku merasakan sebuah ketentraman hati yang hanya bisa dikalahkan oleh rasa tentram ketika ku sholat. sketsa-sketsa berbagai mimik dari wajah Lisa selalu menghiasi hariku walaupun dia tak dekat denganku. aku tak bisa menjelaskan seluruhnya perasaan ini. baru pertama kali ku rasakan hal ini. aku tak tahu apakah Lisa juga merasakan hal yang sama denganku ini. keanehan berbeda juga diungkapkan oleh dua sahabat karib Lisa. suatu hari ketika kelas belum pernah dimulai, kami berempat bercanda dan mengobrol di kelas.
"Guh, gw merasakan keanehan dengan Lisa." Kata Ray
"Hah...!? aneh gimana maksud loe??" jawab ku
"Iya, gw aneh aja ma tuh anak, kalo jalan ma kita-kita dia lebih pendiam, tapi kalo dekat-dekat lu kayaknya dia banyak ngobrol. jujur gw belum pernah lihat Lisa tertawa lepas yang kayak tadi pas becanda ma loe."
"ah yang bener loe, mang gitu Lis...??" tanyaku pada Lisa
"emang iya, ya...?? loe aja kali Ray yang gak pernah liat gw ketawa lepas" Jawab Lisa
"lah nih anak, malah tanya balik, tapi biasanya sih yang kayak gini terjadi karena kalian udan saling cinta" timpal Nita
"iya, lagian sebenarnya kalian berdua udah pacaran apa belum sih?? gue liatin kayaknya makin hari makin lengket aja, hahahahaha..." kata Ray. setelah Ray berkata begitu aku dan Lisa saling memandang. ku lihat wajah Lisa yang agak memerah menahan malu dengan senyum manisnya yang khas. begitu juga aku, aku pun tersenyum dan tak berapa lama kemudian kami berdua tertawa.
"hahahahaha..., jadian...?? belum kali, tenang aja kalo udah juga bakalan aku kasih tahu, hahahahah..." kata Lisa. aku hanya bisa tertawa mendengarnya.
"oke, eh ngomong-ngomong abis oral test minggu depan kita nonton yuk...??" kata Ray.
"Hmmm..., nonton apa?? dimana" tanyaku
"AADC aja, gw belum nonton tuh, kita nonton di Kalibata Mall aja, gimana" jawab Ray. pada waktu itu memang film Ada Apa Dengan Cinta sedang booming-boomingnya. teman-teman sekolahku juga sering membicarakannya. film yang dibintangi oleh Dian Sastro dan Nicholas Saputra itu memang menjadi salah satu ikon kebangkitan film Indonesia pada saat itu.
"gue sih oke-oke aja, Gimana Lis??" tanyaku pada Lisa.
"ah Lisa mah kalo loe ikut, dia juga pasti ikut, hahahahaha" timpal Nita sebelum Lisa menjawab.
"hmmm..., lihat minggu depan aja ya, takutnya ada tugas" jawabnya polos.
tak berapa lama, bel tanda kelas dimulai berbunyi. selama pelajaran hari itu, aku merenungkan perkataan Nita dan Ray tentang cinta dan pacaran. apakah perasaan ini yang disebut cinta. aku benar-benar tidak mengerti tentang hal ini. aku bisa diibaratkan dengan bayi yang baru lahir di dalam dunia cinta ini. banyak memang teman-temanku yang sudah mulai berpacaran bahkan sejak dari SD dahulu. masih ku ingat bagaimana Vima, teman SD-ku, menitipkan sepucuk surat kepadaku untuk diberikan kepada senior yang juga tetanggaku, Bang Hakim. lalu beranjak SMP ada temanku Asti yang menangis karena tertangkap berkirim surat di kelas dan diledek oleh guru bahasa Inggris, Pak Ariffudin. aku benar-benar baru di dunia cinta ini. aku makin penasaan dengan kata cinta ini. rasa penasaranku ini membuat diriku tidak berkonsentrasi dalam pelajaran. sampai-sampai aku tidak sadar kalau aku dipanggil oleh guruku dan tepukkan keras dari Chandra menyadarkanku kembali.

( Episode III) 5 Tahun Mengenang Kepergiannya, August 20, 2009

 


Ku perhatikan gerakan tangannya yang halus menggoreskan garis-garis halis di atas bukunya. Ku perhatikan sepertinya aku mengenali karakter yang sedang ia gambar. Itu adalah gambar Naruto, tokoh kartun kesukaan ku, langsung saja ku buka percakapan kembali dengannya dengan rasa penasaranku.
“suka Naruto juga??”
“iya, kamu juga Guh??”
“iya, sebenarnya gue, eh, aku...,” dia tersenyum “awalnya suka dengan soundtrack openingnya, yang judulnya ROCKS itu. Tapi setelah ngikutin kartunnya jadi penasaran dan ketagihan gitu, hehehehehe....”
“oh sama Guh, awalnya aku juga suka soundtracknya, tapi aku suka sama endingnya”
Kartun Naruto, setelah episode ke 15 berganti ending, lalu aku tanyakan ending yang mana yang dia suka.
“ending yang mana?? yang pertama atau kedua??”
“dua-duanya bagus, tapi aku gak tau judulnya,”
“yang pertama itu judulnya Harmonia, kalo yang kedua judulnya Wind. Kamu ngoleksi komiknya juga” dengan lancarnya sekarang aku bisa melafalkan sapaan “aku-kamu”.
“gak juga sih guh, kamu koleksi komiknya juga??”
“iya”
“kapan-kapan aku boleh pinjam ya”
“okay”
agak lama kami mebicarakan tentang Naruto. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu yang aneh dengan suasana kelas. Benar saja, ketika aku mengalihkan pandangan ke sekeliling kelas, guru dan teman-teman sekelasku memperhatikan kami yang sedang mengobrol dengan wajah yang penuh senyum. Dan tak beberapa lama kemudian pecah kembali tawa dan candaan mereka yang diarahkan kepadaku dan Lisa.
“Cie..., makin akrab nih..., hahahahaha...” celetuk Ray, salah satu teman karib Lisa yang duduk di pojok kanan kelas. Untuk kesekian kalinya aku dibuat malu oleh suasana kelas, begitu pun Lisa. Setelah itu, kegiatan kelas dilanjutkan kembali.
“Guh, kamu suka jalan kaki ya...” tanya Lisa yang sekarang membuka percakapan denganku.
“Ha...?? eh iya Lis, kenapa??”
“gak kok, aku cuma sering lihat kamu dari angkot jalan kaki, dan sepertinya kamu menikmati suasana jalanan sampai depan stasiun itu.”
“oh iya, abis emang enakan jalan Lis, lebih adem jalannya dan banyak pohon, jadinya aku menikmati perjalananku itu”
“kayaknya asyik Guh, nanti aku boleh ikut gak??” Ini lah kata-kata yang benar-benar membuatku kaget. Aku sampai terbengong-bengong mendengarnya. Namun kata-kata tadi melekat erat dalam memori dan hatiku. Dan aku benar-benar tak menyangka kata-kata tersebut keluar dari bibirnya yang tipis manis itu.
“Guh, gimana?? boleh gak...??” tanyanya lagi membuyarkan ketercenganganku.
“hmm..., iya boleh, tapi gak apa-apa nih, kamu gak kecapean...??”
“ah gak juga kok...” dan percakapan kami pun berlanjut. Inilah awal kedekatanku dengan Lisa. Tadinya aku pikir Lisa bukanlah cewek yang senang mengobrol. Itu karena diantara 2 teman karibnya yang senang mengobrol memang hanya dia yang lebih pendiam. Tak lama kemudian bel tanda kelas hari itu selesai berbunyi. Aku merapikan dan memasukan buku modul dan catatanku ke dalam tas punggungku yang berwarna hitam bermerk “Westpack” itu. Setelah ku kenakan tasku, ku tanyakan lagi Lisa tentang ajakan dia tadi.
“jadi, jalan kaki bareng ke depan??”
“Jadi Guh, tapi aku sholat dulu”
“oke, aku juga sholat dulu, yaudah nanti yang selesai duluan tungguin di depan musholah ya??”
“oke”
kami pun keluar bareng dari kelas. Tak ketinggalan, candaan dari teman-teman terutama dari Ray dan Nita, sahabat karib Lisa, kembali meledekku. Sesampainya di depan musholah, aku bergegas melepas sepatu warriorku lalu aku berwudhu. Setelah itu, aku keluarkan sarungku. Sarung itu adalah hadiah sunatanku ketika aku masih duduk di kelas 5. sarung itu berwarna dasar hijau dengan garis kotak-kotak berwarna merah. Ketika akan masuk ke musholah bagian laki-laki, aku berpapasan dengan Lisa yang baru selesai wudhu. Parasnya tampak lebih cantik ketikan terkena air. Wajahnya seakan memancarkan sinar yang cerah dan terang. Percikkan air di wajahnya juga membuat wajahnya terlihat lebih anggun. Matanya yang agak sipit ketika tidak memakai kacamata tampak lebih berbinar. Rambutnya yang berponi belah pinggir itu tampak berbeda namun lebih memesona hatiku dibanding ketika ia memakai bando putih tadi. Ia melewatiku sambil tersenyum dan aku membalasnya pulan dengan senyumku
khusyuk aku dalam sholatku. Ku tinggalkan beban tugas sekolahku. Ku tanggalkan keterpesonaanku terhadap lLisa dan ku serahkan semuanya kepada Allah SWT. Selesai sholat, ku baca Quran sakuku yang biasa ku bawa. Ku baca beberapa ayat dan setelah itu aku berdoa dan bergegas keluar musholah. Segera ku pakai sepatuku. Ku perhatikan sekeliling, sepertinya Lisa belum selesai sholatnya. Jadi aku akan menunggunya. Ku keluarkan Sony Ericsson T100-ku dan memainkannya untuk menunggu Lisa turun. Ini adalah Hp pertamaku yang diwariskan oleh orang tuaku kepadaku. Aku memang sering mendapat barang warisan orangtuaku. Tak lama kemudian Lisa turun. Ia mengambil sepatunya dan duduk dekat denganku dan memakai sepatu warriornya yang bermerk “NB” itu. Halus gerakannya mengikat tali sepatunya. Indah simpul yang ia buat menyerupai kupu-kupu.
“yuk...” ajaknya berbarengan dengan ia bangkit dan mengenakan tas selempangan birunya itu. Aku pun langsung memasukan Hp-ku ke dalam tas dan bangkit dari dudukku. Kami berdua pun jalan menuju pintu gerbang LIA Pengadegan. Disana ku lihat Ray dan Nita tampaknya sedang menunggu Lisa.
“Guh, aku bilang ke mereka dulu yah??”
“Oke, aku juga mau beli permen karet dulu, sekalian aja ajak mereka, nanti tunggu di situ aja ya??”
“oke” katanya sambil mempercepat langkahnya menuju Ray dan Nita. Aku sendiri berbelok ke mini market LIA untuk membeli permen karet. Aku terbiasa membeli permen karet untuk mengusir kebosananku ketika aku jalan kaki. Ketika aku selesai membeli, Lisa sudah menungguku di luar bersama Ray dan Nita.
“maaf jadi nunggu...”
“ah gak apa-apa kok” kata Lisa
“eh Ray, Nit, ikut gak??” ajakku
“gak ah, takut ganggu pdkt kalian, hahahaha” kata Nita meledekku lagi
“biasa aja kali...” kataku sambil tersenyum
“jagain si Lisa ya Guh, kalo jatuh lu gendong ya, hahahahaha” kali ini Ray meledek ku
“hahahaha, iya, yaudah duluan ya...??”
“oke...”
aku dan Lisa pun melanjutkan perjalanan kami. Seperti dalam kelas, kami diam selama menit-menit awal perjalanan kami. Aku menawarkan permen karet rasa pepermint kepada Lisa. Dan dia menerimanya. Aku coba buka percakapanku kembali dengan Lisa. Kali ini aku memberanikan menanyakan rumahnya.
“rumah lu dimana Lis??”
“di Tebet Guh”
“kok jalannya ke arah sini, bukannya Tebet kesana ya??” kataku sambil menunjuk ke belakang kami dengan jempolku.
“gak, aku naik kereta, nanti aku turun di stasiun Tebet”
“oh...” Ku perhatikan Lisa tampak lelah dan tersenggal-senggal nafasnya ketika ia berbincang denganku selama perjalanannya bersamaku. Aku memang tipe pejalan cepat. Aku pernah mencoba menghitung kecepatan langkahku. Dan aku mendapatkan bahwa aku sanggup menempuh 4 meter dalam kurun waktu 1 detik. Karena Lisa tampak lelah mengikuti langkahku, aku memperlambat langkahku. Ku perhatikan langkah Lisa yang tampak anggun dan feminim. Bila ku tarik lurus garis selebar 2-3cm di jalan tempat ia melangkah, maka sisi-sisi garis tersebut akan terus bersinggungan lurus dengan sisi dalam sepatu. Di jalan menuju ke arah stasiun Kalibata tersebut ada sebuah kios es kelapa. Aku biasa membeli es kelapa disitu. Selain melepas dahaga, kelapanya menjadi pengganjal perut dan tambahan energiku dalam perjalanan. Aku pun mengajak Lisa untuk beli es kelapa.
“beli es kelapa yuk Lis, kamu mau gak??”
“hmmm....” ia bergumam dan tampak ragu dan ku potong gumamannya.
“aku beliin deh, kamu haus kan?? hehehehehe”
“hmm..., sebenarnya iya, hehehehehe..., oke deh, makasih Guh” lalu kami menuju kios es kelapa tersebut.
“Pak, es kelapanya 2, di plastik” kataku
“Gula putih atau gula merah Dek”
“kamu apa Lis...??”
“Gula putih Guh”
“gula putih dua-duanya Pak” kataku. Selama menunggu es kelapa selesai, aku kembali membuka percakapan dengan Lisa.
“kamu sekolah dimana Lis??”
“aku di Sermabel (SMPN 115), kamu??”
“aku di V-gho (SMPN 150)”
“dimana tuh??”
“di belakang kramat jati”
“oh...” tak berapa lama, es kelapa yang kami pesan selesai dibuat. Ku keluarkan uang lima ribuan untuk membayarnya dan kami meninggalkan kios itu. Es kelapa kali ini tampak lebih manis. Entah apa yang membuatnya terasa lebih manis. Tapi aku menikmatinya. Di sisa perjalanan ke arah Stasiun Kalibata, kami membicarakan tentang beberapa pelajaran favorit di sekolah. Tak ku sangka, ia memiliki mata pelajaran favourit yang sama denganku. Aku dan dia menyukai matematika, fisika dan sejarah. Selain itu, ia menyukai biologi. Sangat menyenangkan bisa mengobrol banyak dengannya. Selama aku berbicara dengan seorang cewek seumuranku pada waktu itu, aku belum pernah berbicara selama dan seintensif itu.
Tak terasa perjalanan kami ke Stasiun Kalibata sudah sampai. Di akhir perjalananku bersamanya pada hari itu Lisa berpamitan.
“Makasih Guh, besok aku boleh ikut lagi ya...??”
“Sama-sama Lis, boleh aja, maaf tadi bikin kamu capek jalan bareng aku”
“oh gak apa-apa, harusnya aku yang minta maaf udah bikin kamu melambat”
“biasa aja Lis”
“Oke, sampai ketemu hari Kamis ya??
“oke, hati-hati di jalan Lis”
“Iya” katanya sambil masuk ke Stasiun Kalibata. Ku lihat ia dari belakang. Rambutnya yang menutupi punggungnya tampak berkilau terkena sinar matahari yang datang dari depannya. Memang rambutnya itulah yang benar-benar memesonaku. Lalu aku lanjutkan perjalanan kakiku menuju Cililitan. Entah apa yang sedang ku rasa. Selama perjalanan hatiku terasa gembira dan bahagia.
to be continued...

( Episode II ) 5 Tahun Mengenang Kepergian Dia, August 20, 2009

Hari-hariku di tempat les bahasa inggris tersebut berlalu dengan normal. hingga pada suatu hari, ketika itu aku memang sedang ada kegiatan di sekolahku. jadi, aku datang ke tempat les itu dengan terburu dan masih mengenakan baju putih-biru SMP-ku. aku sampai di sana pukul 3 lewat sedikit. aku langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 3. sebenarnya ada lift yang dapat aku gunakan. tapi aku adalah tipe orang yang malas untuk menunggu. walaupun itu sebebnarnya tidak membuatku capai. ketika sampai di lantai 3, ketika itu pula pintu lift terbuka, dan keluarlah Lisa dengan masih mengenakan seragam SMP-nya juga. masih dengan gaya feminimnya, rambut yang tergerai rapi dan indah, bando kain yang berwarna putih, tas selempangan biru dan sepatu warrior serta kaus kai putih sebetis. saat ia memakai rok biru SMP yang sepanjang lutut itu benar-benar memesona hatiku. hal inilah yang menegaskan kalu ia memang cocok disebut sebagai cewek feminis. lalu aku dan dia saling melihat, dan seketika itu pula aku melempar senyum kepadanya dan dibalas senyumku dengan senyumnya yang menawan dan anggun dari bibir tipisnya itu. karena berpikir ada teman terlambat, aku memperlambat langkahku sambil mengatur nafasku yang agak tersenggal-senggal.

sesampainya di depan pintu kelas, aku mengetuk pintu dan membuka pintu kelas. ku persilahkan Lisa untuk masuk terlebih dahulu dengan aku masih memegang daun pintu kelas yang terbuka ke dalam. ketika ia lewat di depanku, kibaran rambutnya yang panjang kembali memesona hatiku. indah dan menenangkan, itulah kesanku ketika melihat hal tersebut. di dalam kelas tersebut tersisa 2 kursi kuliah, yang satu agak goyang mejanya, yang satu lagi terlihat lebih normal dan bagus. Lisa sepertinya bingung memilih kursi mana yang akan dia duduki. sepertinya ia tidak enak denganku dan akan memberikan kursi yang agak bagusan untuk diriku. tetapi aku menolak, aku malah mempersilahkan ia duduk di kursi yang bagus itu. aku melakukan hal tersebut bukan untuk mencari perhatian atau dianggap lebih gentle, tetapi sikap tersebut memang selalu muncul. aku lebih suka memberikan tempat yang bagus untuk orang lain ketimbang untuk diriku, walaupun aku bisa saja mendapatkannya. hal tersebut memberikan suatu kepuasan dan kesenangan dalam batinku. ketika kami duduk, guru kelasku berkata sambil tersenyum
"that's what man should do to woman??"
beberapa saat kemudian, pecah keheningan kelas dengan nada-nada yang mengejek kepadaku dan Lisa.
"Cie Teguh..., Cie Lisa...,"
aku dan Lisa hanya bisa tersenyum dan saling memandang. ku lihat wajah LIsa yang memerah menahan malu. ketika aku memandang Lisa, guruku kembali mengucapkan ledekannya yang membuat semakin riuh suasana kelas.
"kayaknya Teguh dan Lisa emang cocok ya, hahahaha..."
"Cie...,"
aku tidak tahu, atas dasar apa guruku itu melontarkan kata-kata seperti itu. ketika aku memandang seisi kelas, memang hanya aku dan Lisa yang mengenakan seragam SMP. setelah suasana agak tenang, guruku melanjutkan penjelasannya yang terputus karena kedatangan kami berdua. lalu dalam salah satu bagian dari pelajaran tersebut terdapat tugas kelompok yang harus dikerjakan oleh 2 orang. dan ketika itu pula, guruku kembali meledekku dan Lisa.
"2 orang sudah terpilih, sisanya buat kelompok sendiri ya??" kelas hening sejenak dan kemudian meledak dengan tawa ceria beserta ledekan yang diarahkan kepadaku dan Lisa.
"Cie..., kayaknya jadi nih, hahahaha..."

yah apa boleh buat, aku akhirnya bekerja sama dengan Lisa. tugas kelompok tersebut hanyalah membuat sebuah dialog percakapan dengan menggunakan adjektive clause. mungkin karena kami sama-sama pemalu, agak lama kami sibuk dengan "kegiatan" sendiri. aku masih memainkan pulpenku dan ia mencoba menuliskan sesuatu. dengan agak canggung aku memulai percakapan tentang tugas yang akan kami buat. ku beberkan ide-ideku tentang percakapan yang ada di otakku. ia pun juga memberikan ide-idenya. suaranya sangat merdu dan indah di telingaku. seperti gemercik air yang mengalir dari mata air pegunungan. begitu menenangkan dan tetap memesona hatiku. dan setelah ia memberikan ide-idenya, kami pun mendiskusikannya untuk memilih percakapan mana yang mudah yang akan kami pilih. ia merupakan salah satu cewek yang cerdas yang ku kenal. tutur katanya begitu halus. setiap diksi yang ia pilih seakan menegaskan dia adalah wanita feminis yang supan dan santun. agak canggung sebenarnya aku mengobrol dengannya. dia menggunakan sapaan "aku-kamu" sedangkan aku masih menggunakan "gw-lu". tapi aku mencoba mengikuti kesopanannya dengan menggunakan sapaan "aku-kamu". walaupus sering terceplos kata "gw" atau "elu", sepertinya dia menanggapinya dengan senymannya yang indah itu dan memakluminya. selesai berdiskusi dan memilih kami pun mencoba membuat dialog dan mencoba menghafalkannya. aku tak tahu, apakah karena kami sudah mengerti tentang pelajaran ini atau memang mudah, kegiatan menghafal ini tidak memakan waktu yang cukup lama. ketika yang lainnya masih sibuk menghafal dan bahkan masih ada yang memberikan idenya. kami sudah selesai, dan ketika itu pula aku meminta persetujuan Lisa untuk maju duluan. dan ia menyetujuinya. dan kami pun maju, tak lupa disertai dengan ledekan-ledekan yang benar-benar membuatku tersipu malu. kami pun melaksanakan tugas peran tersebut dengan cepat dan baik. ketika kami selesai pun tak lupa guru dan teman-teman kelasku kembali meledek ku dan Lisa.
setelah melaksanakn tugas itu, kami kembali melakukan "kegiatan" masing2. aku kembali memainkan pulpenku dan dia menggambar di buku modul. aku memberanikan diri untuk membuka percakapan.
"suka gambar...??" tanyaku ramah
"iya" jawabnya singkat
to be continued...

( Episode I ) 5 Tahun Mengenang Kepergian Dia, August 20, 2009


Ini adalah cerita bersambung tentang kisah cinta gw 5 tahun yang lalu bersama seorang gadis yang amat gw cintai sampai saat ini. cerita ini sengaja gw tulis untuk mengenang kepergiannya untuk selamanya begitu cepat dari kehidupan cinta gw itu. dan gw harap ketika dia membacanya dari atas sana dia juga bisa mengenang kisah cintanya tersebut. yaudah langsung saja.

6 Januari 2004, 14:55, ku duduk terdiam di pojok kelas sebuah lembaga pendidikan bahasa asing di bilangan pengadegan. aku menatap menembus jendela dari kelas yang berada di lantai tiga itu ke arah sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di areal parkir sebuah gedung. dari bentuk bangunannya, aku dapat mengenali bahwa bangunan yang ada di seberang tempat para anak-anak itu bermain bola adalah banguna suatu instansi pemerintah, entah itu kelurahan atau kecamatan. aku mencoba membayangkan keceriaan dari sekumpulan anak-anak tersebut dengan menghadirkan keceriaan masa kecilku.

tak lama kemudian lamunanku itu dibuyarkan dengan kedatangan 3 anak perempuan yang sepantaran denganku masuk ke kelas. kalau dilihat dari gerak-gerik 3 orang ini, sepertinya mereka adalah sahabat karib. orang yang pertama mengenakan t-shirt warna biru dengan tas selempangan warna merah dan celana jeans. dari gaya bicaranya sepertinya dia sangat aktif dalam berbicara. rambutnya yang sebahu seakan memberikan gambarannya sebagai anak yang tomboy. orang yang kedua pun tak jauh beda dengan orang yang pertama. dengan gaya yang hampir sama, t-shirt, jeans dan tas selempangan. 2 orang pertama ini sepertinya asyik men\mbicarakan sesuatu yang menyenangkan, berbeda dengan 2 orang sebelumnya, orang yang ketiga ini tampak lebih pendiam. dia mengenakan t-shirt warna biru langit, tas selempangan dan celana jeans. yang tampak beda lagi adalah, orang yang ketiga ini tampak lebih feminim dan anggun dengan rambut panjang sepunggung, yang tergerai indah, bando hitam di rambutnya dan kacamata kotak dengan frame kecil dan tipis berwarna hitam melekat di wajahnya. lalu mereka mengambil temoat duduk yang berdekatan. si rambut panjang duduk dekat denganku, aku hanya berjarak 3 kursi ke ke kiri darinya. entah pancaran apa yang membuatku selalu ingin melihat si rambut panjang ini. wajahnya yang bulat dengan dagu yang agak tebal dan bibir tipisnya membuat hatiku penasaran untuk menatapnya lagi. ingin sekali aku mengetahui namanya dan berkenalan dengannya, tapi aku memang pemalu, aku hanya bisa curi-curi pandang untuk dapat menatapnya. yah namanya juga masih ABG.

tak lama kemudian masuk orang-orang yang akan menjadi teman-temanku di kelas tersebut. aku berkenalan dengan anak laki-laki disebelahku yang bernama Chandra dan temannya yang sepertinya berasal dari satu sekolah yang bernama Rachel. dari daftar hadir kelas, akhirnya aku dapat mengetahui namanya: Allisa Andananingtyas. cukup panjang memang, tapi itu adalah nama yang pas dan indah secantik dengan dirinya.

to be continued....

40 Hadits is Easy to be Memorized

Any 40 short hadits easy to be memorized, yes really.. during 6 years in school and we did'nt memorize it. growing as adolescent, after 3 years still can't memorize 40 hadits. by time growing adult join in university, at work, married, have children, more busy, getting old and still can't memorized 40 short hadists.

Masya Allah.. when light coming to you as guidance, at that time you realised, how much time we wasting our time. how much many songs you remember, poem, and others, but we can't try to memorized short words from Rasullullah Shallahu ailaihi wassalam.

Moeslim Identity

Superiority to Memorized Hadits,

Prophet Muhammad SAW said: "May Allah make radiant face of someone who heard the hadith from us and then he memorized and then pass it on to others .... " (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan ibnu Majah dari Zaid bin Tsabit ra).

from Abu Hurairah ra, Rasul SAW said: "Any person who memorized 40 Hadith that benefit from the affairs of my ummah their deen, Allah will raise it in the Day of Judgment along with the scholars. The virtue of a scholar in a compare abid (devout) as much as 70 degrees and God knows how much more distance between one degree to the next level" (HR. Baihaqi in Syu;bul Iman.

from Abu Darda ra, Rasul SAW has asked what limits science if someone memorized, so he included faqih?

Prophet Muhammad SAW said, "Whoever memorized for my ummah 40 hadith of cases their deen, Allah will raise it in the Day of Judgment as a jurist, and I become intercessors and witnesses for him". (HR. Baihaqi in Syu'bul Iman).

40 Short Hadits

1. Imaniat


  الَدِّيْنُ يُسرٌ

Ad diinu yusrun (HR Bukhari) Meaning: Religion is Easy.
2. Ibaadat



مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلاَةُ



Miftaahul Jannati As Sholaah (HR Ahmad) Meaning: The key to paradise is prayer.

3. Muamalat



مَنْ غَشَّنا فَلَيْسَ مِنَّا





Man ghassyanaa fa laisa minnaa (HR Muslim) Meaning: Who is cheating is not one of us.

4. Muasyaraat 


الَسَّلامُ قَبْلَ الكَلاَمِ



Assalamu qablal kalam (HR Bukhari) Meaning: Give a greaatings before talk.

5. Akhlaqiyaat 



علَيْكُمْ باِلصِّدْقِ



‘Alaykum bis shidqi (HR Muslim) Meaning: Should be honest. 
6. Imaniat 


نمَا الأعْمَالُ باِلنِّيَةِإِ



Innamal a’maalu bin niyyaat (HR Bukhari) Meaning: Every charity in accordance with his intentions.
7. Ibaadaat 


الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ



At thuhuuru syathrul imaan (HR Muslim) Meaning: Cleanliness is the most faith.
8. Muamalaat


مَنِ انْتَهَبَ نُهْبَةً فَلَيْسَ مِنَّا



Manintahaba nuhbatan fa laisa minnaa (HR Tirmizi) Meaning: Who robs people not belonging to our group.
9. Muasyaraat 


الْجَنَّةُ تَحْتَ أقْدامِ الأُمَّهَاتِ



Al Jannatu tahta aqdaamil ummahaat (Kanzul Ummal) Meaning: Heaven is under mother's feet.
10. Akhlaqiyaat


اِجْتَنِبُواالْغَضَبَ



Ijtanibul ghadhab (Kanzul Ummal) Meaning: Stay away from bad temper.
 
11. Imaniat

لا تقوم الساعة على أحد يقول: الله اللهLaa taquumus saa'atu 'alaa ahadin yaquulu Allah ... Allah ... (Muslim) Meaning: There will come the apocalypse as long as there is thank God ... God ...

12 Ibaadaat
الدعاء سلاح المؤمنAd du'aau silaahul mu'min (Jamius Saghir) Meaning: Prayer is a weapon of the believer.

13 Muamalaat

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي
La'ana Rasulullahi (saw) ar wal rasyia murtasyia (Abu Dawud) Meaning: curse the Prophet (PBUH) to the people who bribe and are bribed.

14 Muasyaraat
رضى الرب في رضى الوالد
Ridhar Rabbee fii ridhal waalid (HR Tirmidhi) Meaning: Rida Allah lies in the pleasure of parents.

15 Akhlaqiyaat
لا يدخل الجنة خب ولا بخيل ولا منان
Laa yadkhulul jannata khabbun bakhiylun wa wa laa laa mannaan (HR Tirmidhi) Meaning: There will enter Paradise man who likes to cheat, stingy and prize giving.

16 Imaniat
الدعاء مخ العبادة
Ad du'aau mukhkhul ibaadah (HR Tirmidhi) Meaning: Prayer is the essence of worship.

17 Ibaadaat
الكلمة الطيبة صدقة
Al kalimatut thayyibatu Sadaqah (Bukhari) This means: Say good is charity.

18. Muamalaat

المرء مع من أحب
Al mar'u maa man ahabba (Muslim) Meaning: Someone will be with whom he loves.

19. Muasyaraat
لايدخل الجنة قاطع

Laa yadkhulul jannata qaati'un (Muslim) means: Not going to heaven breaker kinship.

20. Akhlaqiyaat
يدخل الجنة نمام لا
Laa yadkhulul jannata nammaamun (Muslim) means: Not going to heaven instigator.

21. Imaniat
اتق الله حيث ما كنت
Ittaqillaha Haitsu maa kunta (HR Tirmidhi) Meaning: Fear Allah wherever you are.

22. Ibaadaat
خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Khairukum man ta'allamal Qur'aana wa 'allamahu (Bukhari) Meaning: The best of those among you are those who learn the Qur'an and teach it.

23. Muamalaat
سباب المسلم فسوق, وقتاله كفر

Sibaabul muslimi fusuuqun wa qitaaluhu kufrun (HR Tirmidhi) Meaning: berate a Muslim is a sin and the fight against it is Kufr.

24. Muasyaraat
من ستر مسلما ستره الله يوم القيامة

Man satara musliman satarahullaahu yaumal qiyama (Muslim) Meaning: Who cover the disgrace of a Muslim, Allah will cover her shame on the Day of Judgment.

25. Akhlaqiyaat
ا يرحم الله من لا يرحم الناسل

Yarhamullaahu man laa laa yarhamunnaasa (Bukhari) Meaning: No dear God those who do not love to humans.

26. Imaniat
لدال على الخير كفاعلها

Ad daallu 'alal khairi kafaa'ilihi (HR Tirmidhi) Meaning: People who invites goodness gets the same reward to the person who invited.

27. Ibaadaat
أنفق يا ابن آدم ينفق عليك

Anfiq yabna Aadama yunfaq 'alaik (Bukhari) Meaning: O Children of Adam Berinfaqlah then you will be rewarded.

28. Muamalaat
أحب البلاد إلى الله مساجدها

Ahabbul bilaadi ilallaahi masaajiduha (Bukhari) Meaning: The most beloved of God on earth is a mosque-mosque.

29. Muasyaraat
اليد العليا خير من اليد السفلى

Al yadul ulya Khairun terminal Yadis suflaa (Muslim) Meaning: The upper hand is better than the hand below.

30. Akhlaqiyaat
الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

Ad duniya sijnul mu'min wa Jannat kaafir (Muslim) Meaning: The world is a prison for the believer and a paradise for infidels.

31. Imaniat
من تشبه بقوم فهو منهم

Man tashabbaha bi qaumin fa huwa min hum (Abu Dawud) Meaning: Whoever imitates a people then he would be classed as such the ethnic group.

32. Ibaadaat
من حمل علينا السلاح فليس منا

Man hamala 'alainas silaaha fa laisa minnaa (Bukhari) Meaning: Whoever scare with weapons to us then is not one of us.

33. Muamalaat
بلغوا عني ولو آية

Ballighuw anniy though aayah (Bukhari) Meaning: Convey from me even one verse.

34. Muasyaraat
لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه
Jannata yadkhulul laa laa man ya'manu jaaruhu bawaa'iqahu (Muslim) Meaning: Do not go to heaven tetanggannya people who do not feel safe from interference.

35. Akhlaqiyaat
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Al muslimu man salimal muslimuuna wa min lisaanihii yadihii (Bukhari) This means: true Muslim is a Muslim survivors other than his verbal ugliness and evil hands.


36. Imaniat
من بنى لله مسجدا بنى الله له بية في الجنة

Man banaa lillahi masjidan banallahu lahuu baytan fil Jannah (Muslim) Meaning: Whoever builds a mosque for Allah, Allah will wake her home in Paradise.


37. Ibaadaat
من عزى مصابا فله مثل أجره

Man 'azzaa musaaban falahu mitslu ajrih (HR Tirmidhi) Meaning: Whoever entertain people afflicted then his reward as those who suffered.

38. Muamalaat
الأناة من الله والعجلة من الشيطان

Al-anaatu minallaahi wal 'minas ajalatu syaithan (HR Tirmidhi) Meaning: Precautions for the coming of God and the rush comes from the devil.

39. Muasyaraat
لايلدغ المؤمن من جحر مرتين

Laa yuldaghul mu'min min juhrim marratain (Bukhari) Meaning: The believer will not be stung twice in the same hole.

40. Akhlaqiyaat
الصبحة تمنع الرزق
As subhatu tamna'ur Rizq (Musnad Ahmad) Meaning: Sleeping in the morning becomes a barrier rizkiMemorize dozens of songs,there is no guarantee of heavenMemorize dozens of hadith?Qur'an and the Hadith of the Prophet are two heritage that can not be separated.