Hari-hariku
di tempat les bahasa inggris tersebut berlalu dengan normal. hingga
pada suatu hari, ketika itu aku memang sedang ada kegiatan di sekolahku.
jadi, aku datang ke tempat les itu dengan terburu dan masih mengenakan
baju putih-biru SMP-ku. aku sampai di sana pukul 3 lewat sedikit. aku
langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 3. sebenar
sesampainya
di depan pintu kelas, aku mengetuk pintu dan membuka pintu kelas. ku
persilahkan Lisa untuk masuk terlebih dahulu dengan aku masih memegang
daun pintu kelas yang terbuka ke dalam. ketika ia lewat di depanku,
kibaran rambutnya yang panjang kembali memesona hatiku. indah dan
menenangkan, itulah kesanku ketika melihat hal tersebut. di dalam kelas
tersebut tersisa 2 kursi kuliah, yang satu agak goyang mejanya, yang
satu lagi terlihat lebih normal dan bagus. Lisa sepertinya bingung
memilih kursi mana yang akan dia duduki. sepertinya ia tidak enak
denganku dan akan memberikan kursi yang agak bagusan untuk diriku.
tetapi aku menolak, aku malah mempersilahkan ia duduk di kursi yang
bagus itu. aku melakukan hal tersebut bukan untuk mencari perhatian atau
dianggap lebih gentle, tetapi sikap tersebut memang selalu muncul. aku
lebih suka memberikan tempat yang bagus untuk orang lain ketimbang untuk
diriku, walaupun aku bisa saja mendapatkannya. hal tersebut memberikan
suatu kepuasan dan kesenangan dalam batinku. ketika kami duduk, guru
kelasku berkata sambil tersenyum
"that's what man should do to woman??"
beberapa saat kemudian, pecah keheningan kelas dengan nada-nada yang mengejek kepadaku dan Lisa.
"Cie Teguh..., Cie Lisa...,"
aku
dan Lisa hanya bisa tersenyum dan saling memandang. ku lihat wajah LIsa
yang memerah menahan malu. ketika aku memandang Lisa, guruku kembali
mengucapkan ledekannya yang membuat semakin riuh suasana kelas.
"kayaknya Teguh dan Lisa emang cocok ya, hahahaha..."
"Cie...,"
aku
tidak tahu, atas dasar apa guruku itu melontarkan kata-kata seperti
itu. ketika aku memandang seisi kelas, memang hanya aku dan Lisa yang
mengenakan seragam SMP. setelah suasana agak tenang, guruku melanjutkan
penjelasannya yang terputus karena kedatangan kami berdua. lalu dalam
salah satu bagian dari pelajaran tersebut terdapat tugas kelompok yang
harus dikerjakan oleh 2 orang. dan ketika itu pula, guruku kembali
meledekku dan Lisa.
"2 orang sudah terpilih, sisanya buat kelompok
sendiri ya??" kelas hening sejenak dan kemudian meledak dengan tawa
ceria beserta ledekan yang diarahkan kepadaku dan Lisa.
"Cie..., kayaknya jadi nih, hahahaha..."
yah
apa boleh buat, aku akhirnya bekerja sama dengan Lisa. tugas kelompok
tersebut hanyalah membuat sebuah dialog percakapan dengan menggunakan
adjektive clause. mungkin karena kami sama-sama pemalu, agak lama kami
sibuk dengan "kegiatan" sendiri. aku masih memainkan pulpenku dan ia
mencoba menuliskan sesuatu. dengan agak canggung aku memulai percakapan
tentang tugas yang akan kami buat. ku beberkan ide-ideku tentang
percakapan yang ada di otakku. ia pun juga memberikan ide-idenya.
suaranya sangat merdu dan indah di telingaku. seperti gemercik air yang
mengalir dari mata air pegunungan. begitu menenangkan dan tetap memesona
hatiku. dan setelah ia memberikan ide-idenya, kami pun mendiskusikannya
untuk memilih percakapan mana yang mudah yang akan kami pilih. ia
merupakan salah satu cewek yang cerdas yang ku kenal. tutur katanya
begitu halus. setiap diksi yang ia pilih seakan menegaskan dia adalah
wanita feminis yang supan dan santun. agak canggung sebenarnya aku
mengobrol dengannya. dia menggunakan sapaan "aku-kamu" sedangkan aku
masih menggunakan "gw-lu". tapi aku mencoba mengikuti kesopanannya
dengan menggunakan sapaan "aku-kamu". walaupus sering terceplos kata
"gw" atau "elu", sepertinya dia menanggapinya dengan senymannya yang
indah itu dan memakluminya. selesai berdiskusi dan memilih kami pun
mencoba membuat dialog dan mencoba menghafalkannya. aku tak tahu, apakah
karena kami sudah mengerti tentang pelajaran ini atau memang mudah,
kegiatan menghafal ini tidak memakan waktu yang cukup lama. ketika yang
lainnya masih sibuk menghafal dan bahkan masih ada yang memberikan
idenya. kami sudah selesai, dan ketika itu pula aku meminta persetujuan
Lisa untuk maju duluan. dan ia menyetujuinya. dan kami pun maju, tak
lupa disertai dengan ledekan-ledekan yang benar-benar membuatku tersipu
malu. kami pun melaksanakan tugas peran tersebut dengan cepat dan baik.
ketika kami selesai pun tak lupa guru dan teman-teman kelasku kembali
meledek ku dan Lisa.
setelah melaksanakn tugas itu, kami kembali
melakukan "kegiatan" masing2. aku kembali memainkan pulpenku dan dia
menggambar di buku modul. aku memberanikan diri untuk membuka
percakapan.
"suka gambar...??" tanyaku ramah
"iya" jawabnya singkat

to be continued...